Bukan Ande- Ande Lumut

Malah jadi ingat kisah Ande-Ande Lumut😀 Sore itu, lebih tepatnya senja itu aku pulang kerja by bus. Cukup sunyi biasanya, udah menyerahnya para penumpang dengan aktivitas seharian. Namun di deretan kanan dengan 3 tempat duduk terdengar cukup keras cekikikan 3 orang cewek sekilas setara dengan anak tingkat pertama kuliah. Istighfar aku gemakan dalam hatiku ketika harus mendengar celotehan saling simpang siur mampir di indra pendengaranku.

“Udah Mas, kita bayarnya segitu aja cukup kan?” sahut teman satunya. “Ya, ditambahlah, Mbak, ini kurang,” sahut mas kernet. “Kita anak kost, Mas,”

Semakin engga nyambung tuh, segerombolan si berat, pikirku tanpa menengok.

“Nanti ta kasih temenku yang satu ini, Mas, bawa pulang aja,”

yakin ini maksudnya bercanda, tapi kok semakin bikin gatal di telinga.

“Wah, temenmu itu engga laku buat dijual,” sahut mas kernet engga kalah semrawut kosa katanya.

Mas kernet ditenggelamkan menarik ongkos penumpang yang lain. Dan aku jadi terbersit keinginan untuk membayari ongkos mereka. Namun sekonyong-konyong mas kernet menyambangi mereka kembali.

“Kalian orang-orang sana, ya?”

“Wah, mas, kok kepo to?”

“Kepo itu apa?”

Dengan diselingi tawa, teman cewe yang satunya bilang.

“ … kepo itu bla bla bla….. “

Dengan nada tegas sambil berlalu, mas kernetnya bilang,

“… wah mbak, omongan anda klasik, tidak kreatif.”

Gedubragggg, … Aku umpamakan cewe-cewe tadi selaksa Klenting Abang, Klenting Biru, dan Klenting Hijau. Mas Kernetnya sebagai Yuyu Kangkang. Kalau dalam cerita aslinya Yuyu Kankang dengan senang hati menyeberangkan mereka melewati sungai, namun dengan upah “sesuatu”, dan “sesuatu” itu akan menyebabkan mereka menjadi ter-“under estimate” oleh Ande-Ande Lumut . Alhasil ketiga Klenting yang konon cantik-cantik itu menjadi tidak terpilih menjadi calon pendamping hidup Ande-Ande Lumut. Karena Ande-Ande Lumut memilih Klenting Kuning yang menyeberangi sungai tanpa bantuan Yuyu Kangkang, karena Yuyu Kangkang juga tak tertarik dengan bau Klenting Kuning yang tidak wangi. Astaghfirlloh. Ingat tembang yang disenandungkan Ande-Ande Lumut saat dimintai ibunya untuk memilih diantara Klenting Abang, Klenting Biru, dan Klenting Hijau,

“Anakku, Si Ande-Ande Lumut, ana prawan ayu sing unggah-unggahi… “ “Duh Ibu, kula mboten purun…. Duh Ibu, kula mboten kerso…”

Namun, begitu yang ditawarkan adalah Klenting Kuning,

“Anakku, Si Ande-Ande Lumut, ana prawan ayu sing unggah-unggahi…” “Duh Ibu, kula inggih kerso…. “

Wkwkwkkw…. Namun kali ini, mas kernet sedikit membuat ending ceritanya berbeda, dia bisa membuat statement tegas kepada “si Klenting Abang, Klenting Biru, dan Klenting Hijau”. Yuk, bayar ongkos bis sesuai seharusnya.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s