…. cerita ibu itu ^^

sentuh tangannya ^^ Perjalanan pulangku kali ini bercerita tentang seorang ibu yang mencoba untuk bijak dalam menghadapi anak-anaknya yang mulai dewasa. Ini bukan untuk konsumsi sepertiku, namun serasa aneh mendengar versi kebijakan yang beliau tawarkan.

                Ibu itu bersemangat menggambarkan anak-anaknya yang beranjak dewasa. Sebagai seorang istri dari angkatan, dia harus menggugah semangat anak-anaknya untuk belajar. Anak bungsunya sampai berpindah 4x sekolah dasar karena lokasi tugas ayahnya. Tidak bisa mendapatkan rangking bagus di kelas, karena sekolah yang dulu belum sampai halaman 15, sedangkan sekarang harus mengerjakan halaman 20. Saat menghibur, ibu itu bilang kalau dulu saat kecil ibunya hanya lauk tempe, sedangkan anaknya yang sekarang lauknya telur bahkan ayam, jadi harus lebih bersemangat lagi belajarnya.

Setelah anaknya kuliah di Jakarta, sedangkan keluarganya 19 tahun tinggal di Bandung, lebih krasan di Bandung. Sehingga setelah selesai kuliah pun anaknya memilih untuk tinggal di jakarta. Sepasang suami istri tanpa anak-anak yang mengelilingi.

Saat anaknya ada yang harus bekerja di Kepulauan Natuna, ibuk nya menyemangati dengan berkata, kalau zaman sekarang komunikasi udah canggih, engga perlu di khawatirkan tentang jarak. Saat anaknya ada yang harus bekerja di tambang, dan hanya 3 bulan sekali  pulang ke rumah untuk libur selama seminggu, ibu itu tidak mengkhawatirkannya, lagi-lagi karena komunikasi sekarang sudah gampang, tinggal telepon aja.

Dan ibu itu saat bercerita panjang lebar di kepulanganku, hanya sendiri bersama suaminya, seluruh keluarga besarnya liburan ke Jogja, karena dulunya neneknya orang Jogja. Yang aku prihatinkan, ibu itu membiarkan anak-anaknya untuk mencari obyek wisata sendiri, sebagai acara nak muda yang ta pernah lelah kakinya, sedangkan beliau berdua, juga mencari obyek wisata sendiri.

Apakah anaknya tidak berasa bahwa mereka juga harus memuliakan orang tuanya, dengan menemaninya di masa tua mereka. Bagiku untuk sekarang ini, “tidak ada tempat yang lebih indah selain rumah,” mengutip ucapan Dorothy Gale, tokoh dalam fiksi OZ, tempat aku bisa menampakkan muka pada ibu bapakku, dan aku bisa menyentuh tangan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s