You are what you want to be

Ini nih….. ada contekan Assalamu ‘laikum Ustadz tayang 5 Februari 2012, tayang membahas tentang Akhlaq Gaul, bersama Ustadz Bang Zeck, dipandu Ali Zainal, tema kali ini tentang yang muda yang berprestasi.
Banyak anak-anak kita di rumah. Nah prestasi anak muda ini tidak lepas darididikan orang tua. Ada yang bilang bahwa rumah adalah madrasah untuk anak-anaknya. Kadang-kadang orang tua nyalahin guru melulu, padahal kalau dihitung-hitung anak kita banyakan di rumah.

Pertanyaan pertama via email:
Banyakan yang mana, banyakan yang tua atau yang muda yang ikut berperang dan berjuang bersama Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam.

Jawaban Bang Zeck:
Tidak hanya dalam sejarah Islam, bahkan dalam sejarah peradaban dunia semua yang ikut berperan menaklukkan entah kerajaan, atau negara-negara, tentu anak-anak.
Mantan presiden kita yang pertama Presiden Sukarno, beliau mengatakan

“Beri aku sepuluh anak muda, maka aku akan goncang dunia ini”


Belum pernah ada pemimpin yang bilang, “… beri aku sepuluh aki-aki… “😀😀😀
Engga pernah ada. Jadi memang anak muda, bahkan kata Rasul,

Maju dan mundurnya suatu negara itu gimana anak mudanya.

Pertanyaan dari Ibu Hikma:
Apakah dalam kaidah Islam menyebutkan kapan usia idealnya seorang muslim menuntut ilmu? Mohon penjelasannya.

Jawaban Bang Zeck:
Ada satu pepatah Arab yang mengatakan

“Utubil ilma ilal mahdi ilal lahdi”
Tuntutlah ilmu semenjak dari mulai brojol sampai kita masuk ke dalam liang lahat.

Jadi engga ada batas waktu. Engga ada expired date-nya untuk kita menuntut ilmu. Terus kerahkan yang terbaik untuk kita menjadi yang terbaik dimata Allah. Kalau untuk menjadi yang terbaik dimata manusia itu gampang banget. Ingat, orang sukses itu yang dikenal banyak orang, dielu-elukan, hidup bergelimang harta, bukan itu.

Orang yang sukses sejati, adalah dia yang mampu memberikan  banyak manfaat untuk orang lain dan dia tetap rendah hati, dan dia tetap selalu mendahulukan orang yang memerlukan, itu baru orang sukses.

Pertanyaan by phone Ibu Rahmi di Manggarai:
Begini Pak Ustadz, Alhamdulillah sekarang saya sudah hamil 5 bulan, dan itu merupakan kehamilan saya yang pertama. Jadi agak deg-deg an juga Pak Ustadz. Saya pengen banget anak saya yang nantinya lahir, dalam keadaan yang sehat, menjadi anak yang sholeh dan sholihah, pintar, pokoknya menjadi kebanggaan keluarga dweh, Ustadz. Kenapa ya ustadz, dalam hati saya suka terbersit kekhawatiran kalau anak saya nanti menjadi anak yang durhaka, sehubungan banyaknya kasus yang terjadi belakangan ini. Apa ada kiat-kiat yang harus saya lakukan semasa hamil ini agar keinginan saya itu bisa terwujud, Pak Ustadz.

Jawaban Bang Zeck:
Alam yang kedua, setelah setiap manusia masuk alam ruh, adalah alam rahim ibu. Ditiupkannya ruh ke dalam setiap janin manusia itu adalah umur bulan ke-4, jadi kalau ada bayi masuk bulan ke-4, dia sudah wajib zakat fitrah. Kenapa? Karena memang di bulan ke-4 inilah ditiupkan ruhnya. Maka buat ibu-ibu yang sudah hamilnya 4 bulan ke atas, kata Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wassalam

“Dengarkanlah bacaan-bacaan Al Qur’an  kepada janin itu.”

Jadi, kalau misalnya ibuk lagi hamil 7 bulan, dengerin dangdut, goyang dombret, goyang ngesot, alamat palsu, dicari-cari engga ketemu😀😀😀 :D  Jadi jangan salahin kalau itu anak nanti besarnya jadi penyanyi dangdut.😉😉 Makanya dari mulai umur bulan ke-4 harus didengarkan bacaan-bacaan Al Qur’an.
Kenapa seorang bayi itu ketika lahir dia di adzankan? Karena memang matanya boleh tidak melihat, tetapi hatinya sudah mampu mendengar apa yang masuk ke dalam telinganya.

Pertanyaan via email:
Sekarang kan banyak generasi muda yang sudah hafal Al Qur’an, bahkan menjadi hafiz. Tapi kenapa ya, di beberapa mesjid, misalnya di tempat saya, masih berpikiran polos, bahwa orang yang lebih tua lah yang pantas menjadi imam, padahal terkadang suka lupa dan makhraj nya kurang betul. Seperti apa c, syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi imam. Apakah orang yang lebih muda engga boleh jadi imam?

Jawaban Bang Zeck:
Inilah kendala yang banyak terjadi di masyarakat kita, yang muda tidak diberi kesempatan dan peluang untuk berkiprah mengukir sejarah bangsa. Nah, padahal yang muda ini potensinya masih kuat. Makanya kalau kita lihat di Timur Tengah, di Mesir terutama, banyak orang-orang non muslim itu masuk Islam karena mendengar adzan yang bagus. Adzan Subuhnya bagus. Kita yang sholat jamaah ke masjid juga mesti juga semangat. Maaf, maaf nih, banyak di kampung kita yang adzan Subuhnya yaaa… begitu dweh… (*** suaranya bikin ngantuk) 😀😀😀
Akhirnya kita juga maw sholat Subuh kan segen, jadi berikanlah kesempatan kepada anak-anak muda ini untuk ikut berkiprah mengukir sejarah bangsa.

Sedikit intermezo dari Ali Zainal: kemarin ada yang masuk Islam di Masjid X kalau engga salah, itu masuk Islam karena adzan. Jadi pada saat dia sakit, dia denger adzan, itu apa ya? Lalu dia ngikutin lafadznya, langsung dia dan suaminya masuk Islam. Subhanalloh.

Pertanyaan dari “GARASI”:
Maw nanya nih Ustadz, kan generasi muda Indonesia banyak yang berprestasi dan menjadi juara di ajang Olimpiade Internasional. Tapi entah kenapa setelah sukses, mereka tetap di luar negeri dan engga kembali ke tanah air dan membangun negara. Pertanyaannya apakah rasa cinta tanah air mereka itu patut dipertanyakan. Itu pertanyaannya, ustadz, terima kasih.

Komentar Ali Zainal: memang ustadz, memang kadang-kadang yang udah berprestasi banyak yang lari ke negara lain. Bukan masalah cinta atau engga, tapi mungkin wallohu’ala bishowab ada kebutuhan-kebutuhan lain, yang lebih menjanjikan. Nah, apakah yang seperti ini bisa dibilang orang yang punya rasa cinta kepada negaranya atau tidak ini, ustadz?

Jawaban Bang Zeck:
Jadi begini, orang cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, sering lupa, cinta kepada negaranya.

Cinta kita kepada negara, itu bagian dari iman kita.

Kita ini Indonesia, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia. Makanya kan dibilang, Sumpah Pemuda. Pemuda lah yang menyatukan semua yang ada di Indonesia ini, namun sayangnya kita masih belum bisa merasa apa yang bisa kita lakukan untuk negara kita. Kita selalu bertanya apa yang kita dapat dari negara ini.

Pertanyaan dari Ibu Yuli:
Mengapa ya, ada orang yang pintar usianya lebih muda kurang dihargai dan kurang mendapat tempat dari orang-orang yang sudah tua, apakah karena gengsi yang orang yang tua itu?

Jawaban Bang Zeck:
Semakin tua, orang seperti anak kecil lagi. Makanya anak kecil sama nenek-nenek, ini maaf ini, ngambeknya sama, apa kata dia kudu dapet.. Kadang orang tua itu ingin menang sendiri. Disini harus ada tarik-ulur. Dan orang tua engga salah donk harus mengerti anak-anak muda.

Contoh, misalnya ada seorang ibu gagal jadi insinyur, misalnya. Akhirnya, dia maksa anaknya jadi insinyur. Padahal engga bisa. Anak bisa kita miliki jasadnya, tapi tidak dengan jiwa dan kreativitasnya.

Pertanyaan by phone dari Madiun:
Banyak generasi muda kita yang berprestasi dan membanggakan negara. Tapi ustadz kalau saya perhatikan, banyak juga generasi muda kita yang keblinger, yang kerjaannya cuma nongkrong di warnet, maen game online, dan tawuran. Yang membuat saya bingung ustadz, kenapa adad 2 fenomena seperti itu. Apa sistem pendidikan di negara kita yang tidak seragam, atau ada faktor lain yang menyebabkan hal tersebut? Yang sangat saya yakini, pendidikan beragama sangat berpengaruh pada mental generasi muda kita. Kalau menurut Ustadz bagaimana?

Komentar Ali Zainal: Aku setuju banget, menjadi fenomena, Indonesia ini selalu memakan berbagai jenis barang konsumtif. Ada internet lagi masuk , babat habis, ada games baru, semuanya main, nah ini memang prosesi negara berkembang ini kalau tidak salah akan mengikuti hal ini. Bagaimana untuk menyikapi hal baik, truz menjadi baik, jangan menjadi buruk.

Jawaban Bang Zeck:
Negara kita termasuk nomer 3 negara paling konsumtif di dunia. Jadi setiap ada trade mark baru, elektronik, dan sebagainya. Yang pasti kita harus sadar bahwa jiwa muda adalah jiwa yang harus bisa memfilter atau menyaring apa yang bermanfaat untuk kita atau tidak. Tetep dasarnya adalah agama. Orang yang beragama adalah orang yang menghargai waktu, tadi disinggung masalah nongkrong di warnet, ada game online pakai menginap.😀😀😀 Kalau orang beragama dia tahu bahwa

Waktu itu ibarat pedang

Justru kalau kita tidak manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, tinggal siap-siap pedang itu yang akan menebas leher kita. Jadi jangan pernah lewatkan sedetik pun tanpa hal bermanfaat.

Jadi kamu maw jadi apa, semua tergantung dari motivasi dan keyakinan kamu.

You are what you want to be
Kamu itu tergantung, kamu maw jadi apa.

Kesimpulan
Ada sebuah kalimat, sebuah negara tergantung anak-anak mudanya. Begitu juga agama, keberhasilan sebuah agama tergantung dan untuk menghancurkan sebuah agama juga dari anak mudanya. Mungkin Ustadz ada pandangan tersendiri?

Bang Zeck says:
Saya teringat kisah Thariq bin Ziad, seorang panglima perang yang mampu menaklukkan Spanyol, Andalusia, dia membabat semua perahu yang ada di belakang . Dia bilang kepada pasukannya
Wahai pasukan, di depan kita musuh, dibelakang kita sudah tidak ada perahu, lautan luas, tinggal pilih, kalau kita maju, kita meninggal dengan mulia, tapi kalau kita mundur, kita mati dalam keadaan hina, tinggal piliih.

Hiduplah dengan mulia, atau mati pun harus dalam keadaan mulia di mata Allah.

Jadi, maw engga maw, perang. Pulang kemana? Di belakang lautan luas.😉😉

Thanks to: Program Assalamu ‘alaikum Ustadz RCTI, tayang 5 Februari 2012, jam 04:00, narasumber Bang Zeck, host Ali Zainal, Tema: Akhlaq Gaul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s