“… kehidupan sudah ada garisnya, penyesalan cukup menjadi penyesalan…” ^_*

Program acara Kata Ustadz Solmed-nya SCTV tayang Rabu tanggal 12 September 2011, dimulai jam 05:30, sebenarnya ini udah cukup siang untuk nonton TV, karena di jam-jam ini aku udah mulai siap-siap buat rutinitas (*** sok sibuk😉😉 ). Tapi setelah tahu kalau di acara ini Ustadz Solmed banyak cerita-cerita, hehehehe… aku jadi suka juga😉😉 . Aku paling suka kalau disampaikan materi yang ada seperti “behind the scene” ‘gitu… (*** kebawa saat masa kecil doeloe, aku suka banget baca dongeng, cerita, dan sebangsanya). Yukkk check it out….😀😀 Ready dweh, ust😀😀

Di awal acara, ustadz Solmed mengajak kita untuk merenung, kemudian kita berpikir, kemudian kita bertaqqorub kepada Allah Subhanahuwata’ala. Namun sebelum itu kita berikan dan kita jabarkan apa yang akan kita sampaikan dari tema apa yang menarik hari ini, tidak ada salahnya biar mantep iman taqwa kita, saudari Zakiyah akan membawakan Al Qur’anul Karim Surat  Al Baqoroh 216. Dari ayat ini kita akan tahu tema apa yang akan kita angkat.

Tema yang dibahas tentang “Hikmah dibalik musibah.”

fainnama ’al ’usri yusra, innama ‘al ‘usri yusra

(buka Q.S. Alam Nasryoh ayat 5 dan 6)

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan

Dan bersama kesulitan itu pasti  ada kemudahan

Yang janji siapa? Allah.

Yang ngomong siapa? Allah.

Percaya atau tidak? Percaya.

Kalau merpati saja tak pernah ingkar janji, apalagi Allah Subhanahuwata’ala.

Hidup di dunia ini seringkali kita mendapatkan ujian, mendapatkan musibah. Sesungguhnya musibah yang Allah berikan kepada kita, proses untuk mendewasakan diri. Kalau kita tidak ditempa, kalau kita tidak diuji, mana mungkin kita tahu seperti apa kualitas diri ini. Tak kan mungkin besi menjadi pedang yang tajam kecuali melalu proses yang luar biasa panas.

Pernah melihat proses pembuatan pedang?

Diambil dulu satu buah besi atau baja, lalu kemudian dibakar dengan panas yang luar biasa, lalu ditempa, diketok, dipukul, di gepeng, sampai pengek (**bahasa Betawi), mulai dibentuk supaya indah, begitu indah barulah diasah dan kemudian disarungkan dan lalu kemudian dijual dengan harga yang mahal.

Itulah kehidupan, tak kan mungkin kita bisa mengetahui apakah kita termasuk orang-orang yang sabar atau kita orang-orang yang tidak sabar, kalau Allah tidak memberikan musibah kepada kita hamba-hamba-Nya. Dan Allah kan sudah janji, “dibalik musibah pasti ada solusi.”

Saya mau kasih contoh

Ada cerita seorang raja punya penasehat, penasehat yang selalu memberikan nasehat pastinya ketika sang raja membutuhkan nasehat. Tiba-tiba tangan sang raja terkena pisau, lalu kemudian dia merintih sakit, dan kemudian tangan itu dibungkus setelah mengeluarkan darah yang banyak. Lalu bertanya kepada sang penasehat, sang penasehat hanya mengucapkan,

“.. cakep….., bagus……, Alhamdulillah……”

Tersinggung si raja, “.. muke gila loe, tangan ane berdarah, ente syukurin, ente bilang bagus, ente bilang Alhamdulillah…”

“.. ya udah, sekarang kamu sudah tidak boleh ikut lagi dengan saya, kamu sudah menjadi orang yang tidak setia dengan saya, saya sekarang mau pergi berburu, kamu masuk saja ke dalam penjara.”

Si penasehat mengatakan, “… siiippp……. , cakep ………., Alhamdulillah…”

Raja tangan luka , …. dia syukurin, si penasehat masuk penjara, …. dia Alhamdulillah.

Sampai sejauh ini ketemu belum hikmahnya? Udah ketemu belum? Belum.

Ceritanya masih berlanjut,

Berangkatlah si raja ini ke dalam sebuah hutan yang luas, (***kayak mendongeng ya … )😀😀 masuk ke dalam hutan yang luas. Namanya raja dulu kan belum ada stick golf, jadi kerjaannya belom main golf, kemudian belum kongkow-kongkow di kafe,😀😀😀 kerjanya ya, ….  memanah, berburu, berkuda, dan ternyata berburu ini salah satu hobby si raja ini.

Berangkat dia, seorang diri, karena sang penasehat yang biasa menemani sudah masuk penjara. Sampai di sebuah hutan si raja kebingungan, masuknya lewat mana, mau keluar juga lewat mana. Nah loh. Sampailah di sebuah kampung, ternyata di kampung ini banyak sekali masyarakat yang masih primitif, menyembah leluhur, arwah-arwah gentayangan, kuntilanak, kuntilbiang😀😀😀 semuanya disembah. Dan salah satu wujud kecintaannya, mereka selalu mempersembabhkan manusia untuk sang leluhur. Begitu di tengok disudut sana ada seorang laki-laki pakaiannya indah, bagus, berwarna-warni,  berkuda pula, wajahnya bersih. Lalu kemudian sang kepala primitif mengatakan,

“Cocok tuh kita persembahkan kepada arwah-arwah Tuhan kita.”

Diculik, ditangkap, begitu mau di potong, si pemuka daripada ketua suku primitif ini melihat ada cacat di tangan sang raja. Cacatnya dari mana? Dari luka yang tadi terpotong pisau atau pedang.

“Waow, waow, engga beres. engga beres, ini tidak sempurna…”

Pernah motong hewan qurban engga? Pernah motong kambing engga? Salah satu binatang qurban yang engga boleh dipotong adalah binatang yang cacat, cacat telinganya engga boleh menjadi qurban, cacat kakinya engga boleh jadi qurban. Ternyata dia juga begitu

“… wah, ini manusia cacat nih tangannya niey…, gag, gag boleh jadi qurban kita, udah, tuker, tuker, ganti, ganti yang lain…”

Sang raja kemudian termenung,

“Ya Allah, Ya Rabbana, terima kasih, ternyata ucapan ‘Alhamdulillah’ yang diucapkan oleh penasehatku benar. Aku bersyukur musibah luka yang mengenai tanganku, ternyata menyelamatkanku dari kematian, musibah besar.”

Cuma si raja ini lagi bingung, kenapa dia aku masukin penjara, kenapa dia ngucapin ‘Alhamdulillah’ juga ya? Kenapa dia bilang ‘bagus’ juga ya?

Si raja naik kuda.

Gedebag gedebug gedebag gedebug

Suara apa itu?

Itu suara saya ibu (*** ustadz Solmed selalu begini dweh😀😀 )

Begitu pulang naik kuda sampai di depan pintu penjara, sang raja bertanya,

“Wahai penasehatku, Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah, ternyata kamu benar, ucapan ‘Alhamdulillah’-mu membawa hikmah, aku selamat daripada kematian.”

“Saat aku masukkan kamu ke dalam penjara, kenapa kamu ngomong ‘Alhamdulillah’ ?”

Apa jawaban sang Penasehat?

“Tuan raja, saya juga bersyukur masuk penjara, coba kalau saya ikut tuan raja , tuan raja pulang, saya yang disembelih.”😀😀😀

Subhanalloh

Fa innama ‘al ‘usri yusro , Innama ’al ‘usri yusro

Benar janji Allah, awalnya terkadang kita tidak tahu musibah yang menimpa, apa hikmahnya. Begitu sudah tahu, “Terimakasih Ya Allah”

Kalau sebelum kita menemukan hikmah, kita mengatakan, “Kenapa begini Ya Allah, kenapa begitu Ya Allah, kenapa harus saya yang menerima musibah ini Ya Allah.”

Begitu sudah tahu hikmahnya, “Ya Allah terima kasih, Kau telah berikan musibah yang mampu menyelamatkan aku dari musibah yang besar”

Sebelum kita mendapatkan musibah-musibah besar lalu tidak tahu hikmahnyanya, nah  Ustadz Solmed ingin memberi kesempatan kepada ibu yang mau bertanya.

Nama saya Ayu’. Saya mau bertanya, kenapa c Allah itu memberikan kenikmatan-kenikmatan tetapi melalui musibah dulu yang harus kita lewatin, kenapa engga langsung gitu?

Ustadz Solmed says:

Yak, kenapa Allah memberikan kenikmatan lewat musibah?

Supaya kita pandai bersyukur.

Kalau Allah begitu saja memberikan jalan yang lurus, kita lupa nanti sama Allah, tapi begitu kita diuji, dicoba, lalu selamat dari cobaan itu, bersyukur engga?

“Ya Allah, Alhamdulillah, hampir-hampir saja saya nabrak. “

Alhamdulillah Ya Allah, Engkau selamatkan saya, tiba-tiba saya terbuka matanya tidak mengantuk lagi. Terimakasih Ya Allah, Terimakasih Ya Allah.

Beda dengan jalan lurus saja, mungkin kita tidak mengucapkan Alhmdulillah sepanjang jalan, tapi begitu tiba-tiba selamat dari srempetan, selamat dari tabrakan, terucap kata, “Allohu Akbar, Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.”

Begitulah cara Allah untuk membuat kita selalu ingat Allah.

Selanjutnya yang ke dua.

Saya Evi, Alhamdulillah ustadz, ketika kita banyak ujian, banyak masalah, kemudian kita mendapatkan satu hikmah ya, kita hati-hati dan kita merenung, lalu ketemulah hikmah. Tapi dibalik hikmah itu sendiri diikuti rasa bersalah biasanya ustadz, antara hikmahnya ini ada, tapi rasa bersalah juga berlomba. Ini salah aku ini, ini karena aku ini, karena begini, kita melihat ke belakang. Sehingga arti hikmah itu sendiri terkalahkan oleh rasa bersalah itu. Andai, andai, dan andai, biasanya. Bagaimana ustadz itu kita mengatasinya?

Ustadz Solmed says:

Ya, yang pertama, hidup di dunia ini sudah ada garis, contoh,  saya kasih tapi informasi yang biasanya kita selalu berandai-andai, menengok ke belakang.

Ada orang yang kita cintai sakit, truz karena kita lupa dan lalai membawa dia ke dokter, tiba-tiba dia meninggal dunia. Dalam hati,

“Ya Allah, andai kata saya cepat bawa dia ke dokter, mungkin dia tidak meninggal dunia.” Engga bisa, memang musibah itu jalannya.

“Ya Allah, kenapa saya izinkan anak saya ikut acara perpisahan dengan teman-temannya, akhirnya dia berangkat dan kemudian bis yang ditumpanginya masuk ke jurang. Andai kata Ya Allah, saya tidak mengizinkan anak saya, engga mungkin kan anak saya meninggal dunia.” Engga bisa,  memang harus diizinin. Memang harus begitu jalannya, andai kata itu hanya bahasa manusia, tapi bahasa Allah, harus dilewati saat-saat itu.

Saya ada lagi satu cerita,

Dulu ada manusia seorang nabi dan rasul, namanya Nabiulloh Sulaiman. Nabiulloh Sulaiman punya murid, muridnya duduk dalam sebuah majelis. Singkat cerita, di majelis itu ada sesosok laki-laki yang melotot sama si murid nabi Sulaiman. Siapa yang tidak takut dipelototin sama sosok yang misterius.

Takut engga? Takut. Apalagi yang lagi banyak hutang. Jangan-jangan dept colector niey.😀😀😀

Ini murid nabi Sulaiman ngomong sama nabi Sulaiman, Ya Nabi, siapa itu laki-laki pakai ngelihatin, model kayak begitu matanya, saya ketakutan.

Nabi Sulaiman ngomong, “Tenang aja ‘Bro, itu malaikat Izroil”

“Tenang bagaimana? Malaikat Izroil yang ngeliatin saya kok bisa tenang“😉

“Itu malaikat Izroil mau mencabut nyawamu”

Makin Takut.

Nabi Sulaiman punya kelebihan mu’ji’zat  diantaranya mampu menembus dari suatu tempat ke tempat lain secepat angin. Punya ilmunya nabi Sulaiman, itu mu’ji’zat beliau. Mampu memindahkan suatu tempat, suatu bangunan ke tempat yang lain dalam sekejap mata, itu Nabi Sulaiman.

Akhirnya, si murid ini ngomong, “Ya Nabi, pindahin saya donk, saya engga mau disini, saya takut nyawa saya mau dicabut oleh Malaikat Izroil.”

Dipindahkan secepat angin ke Basroh, Irak. Sampai di Irak, ternyata laki-laki itu sudah ada disitu,

“hahahahahha…. datang juga ternyata kamu ya.”

Yang ngedatengin kematian ternyata itu kita.

Makanya saya bilang, mau tidak mau harus akan dilewati jalan itu, tidak bisa tidak. Malaikat saja nentuin ayo datang, pasti udah datang, mati.

Kalau dalam hatinya tadi, “ Yah, coba aku tetep diam di majelisnya nabi Sulaiman, aku kan tidak mati. Gara-gara minta dipindahin tadi, dipindahin ke Irak c.” Akhirnya memang takdirnya harus mati di Irak. Sudah disitu malaikat Izroil menunggu sang laki-laki yang dipelototinnya.

Nabi Sulaiman nanya sama Malaikat Izrail (**ini menarik),

“Hai, Izroil kok jadi begitu ceritanya?”

“Justru saya bingung, Allah minta saya agar mencabut nyawa muridmu itu di Irak. “

“Saya engga tahu seperti apa, jalannya bagaimana, ya saya pelototin saja. Begitu saya pelototin ternyata minta diantar ke Irak lewat mu’ji’zat-mu.”

“Begitulah  ternyata memang harus saya cabut nyawanya.”

Ini kisah kejadian benar, ada dalam riwayat.

Saya hanya menggambarkan istilah kehidupan, sudah ada garisnya, penyesalan cukup menjadi penyesalan, tidak boleh kemudian membuat kita lemah, patah semangat, dan kemudian selalu melihat ke belakang tanpa menatap masa depan yang  lebih hebat lagi. insyaAllah.

Ustadz Solmed tertarik dengan pengalaman Bunda Hajah Evi, ustadz says:

Saya rasa bunda punya banyak sekali, sesuatu yang ingin disampaikan, berbagi inspirasi, cerita, kepada kita, melihat umurnya sudah Alhamdulillah, berapa Bunda? 44 tahun. Bunda, ngomong-ngomong soal pengalaman hidup saya yakin bunda jauh lebih berpengalaman ketimbang saya yang mengajak ngobrol, Bunda.😀😀 Tadi kita lagi cerita tentang hikmah dibalik musibah, Bunda. Bunda pernah mengalami musibah yang kemudian ternyata musibah itu ternyata membawa hikmah? Silakan.

Bunda Evi says:

Banyak hal 40 tahun ke atas tentu saja banyak sekali hal yang membuat kita merenung dan mencari hikmah dibalik musibah. Suatu saat dulu kami menikah, saya menikah usia 24 tahun, saya orang yang sangat sayang sama anak kecil, sayang sama keponakan, keponakan saya banyak, semua dititipin ke saya. Begitu luar biasa kami rasa sayangnya sama keponakan.

Nah, ketika kita menikah, harapan kami segera punya momongan ya, ternyata setelah menikah dapat 6 bulan, saya baru hamil. Senang lah ya, saya bungsu, kakak-kakak saya juga sudah punya momongan semua, pada waktu itu. Ketika hamil dapat 3 bulan, saya keguguran. Saya keguguran dan saya pikir saya engga patah semangat ya. Banyak kok yang keguguran, bukan cuma saya. Banyak juga yang dari keguguran itu punya anak banyak.

Ternyata setelah keguguran, dikuret, keguguran, ditunggu sebulan, engga hamil,  2 bulan engga hamil, sampai 7 tahun. Saya engga bisa hamil dan vonis dokter saat itu saya kena Toxoplasma. Menangislah saya, selama 7 tahun itu kan bukan waktu yang sebentar ya untuk berumah tangga.

Saya nangis, saya merasa, kok Allah abaikan saya? Saya bukan orang yang banyak tingkah, saya bukan orang peminum minuman keras. Waktu saya kecil sampai saya dewasa ayah saya selalu meng-guide saya, saya selalu di bawah pengawasan orang tua yang sangat moderat dan saya tidak pernah keluar jalur. Alhamdulillah. Nah, tapi pada saat saya mengalami musibah itu, saya kan bertanya, keturunan anaknya banyak, kok saya engga bisa punya anak? Saya menangis, saya tidak pernah berhenti bertanya, menyesali, mengapa harus saya? Kenapa? Pertanyaan mulai banyak sampai banyak yang bilang, saya mandul dan sebagainya.

Pada akhirnya 7 tahun itu kami lewati, saya sudah berganti fase, dari tidak terima, marah, nangis, saya merasa terabaikan lah, sampai pada akhirnya, saya merasa mensyukuri, sampai di titik mensyukuri. Kenapa? 7 tahun tidak punya anak kok suami saya tidak selingkuh. Kok engga kenapa-kenapa ya? Fase itu saya temukan, artinya  mulai saya menikmati itu. Nah, pada saat itu saya hamil. Alhamdulillah.

Ustadz Solmed says:

Ow, pada saat titik kita bersyukur kepada Allah, disiitulah Allah menghendaki Bunda hamil. Jadi insiprasi buat semua, melatih bikin suami betah di rumah ya. Biar pengantin baru terus 7 tahun, menikmati sebagai pengantin baru tanpa menikah lagi.😉😉

Terimakasih Bunda Evi atas inspirasinya, harapannya, dan ilmunya.

Kita berdoa kepada Allah, semoga musibah yang ada buat kita membawa berkah untuk kita semuanya.

Thanks to: Program acara SCTV, Kata Ustadz Solmed, tayang 12 September 2011, jam 05:30, tema: “Hikmah dibalik musibah”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s