“Lainsyakartum laaziidannakum….. Kalau kamu syukur, Aku akan tambah.”

Nyontek adalah hobby-ku akhir-akhir ini, tapi dibalik hobby nyontek-ku, ternyata jadi bisa bikin pinter😀😀 Apalagi kalau bukan nyontek materi program TVOne Titian Qolbu, yang tayang hari Senin pagi jam 03:30, tanggal 18 Juli 2011, tema As-Syakur (Maha Penerima Syukur), narasumber Ustadz Aam Amirudin, dipandu Cheche Kirani. Yok check it out😉

Pertanyaan Cheche Kirani:

Ustadz bagaimana c dalam rangka kita senantiasa bersyukur dan bagaimana cara Rasulullah mensyukuri apa yang telah Allah berikan?

Jawaban Ustad Aam:

Kalau kita bicara syukur, jadi sebelum kita bicara bahwa Allah itu Maha Penerima Syukur. Kalau kita dalam hidup ini selalu bersyukur, maka Allah akan menghargai jiwa syukur kita. Maaf, sebagai manusia kadang-kadang orang sudah berbuat baik, sayangnya tidak punya rasa terima kasih kepada orang itu. Allah itu, sekecil apa pun hambanya berbuat kebajikan, Allah akan hargai,

“Sekecil apa pun hamba itu melakukan kebaikan, Allah akan balas kebaikan itu.”

Berarti Allah itu Maha Penerima Syukur. Jadi selalu memberikan imbalan sesuai dengan ikhtiar hambanya, itu yang disebut dengan As-Syakur. Nah, tapi sebelum kita bicara tentang itu, saya perlu mendefinisikan syukur. Syukur itu apa?

“Syukur itu kata para ahli, menempatkan sesuatu pada tempatnya, menempatkan sesuatu secara proporsional.”

“Ibu beli sepatu harganya 1 juta, dipakainya dimana bu?” Di kaki.

“Ibu beli kerudung, harganya 100ribu itu bayarnya 4 kali, 4 kali pengajian😉 , itu contoh,  walaupun harganya 100ribu, ibu dipakai dimana itu kerudung?” Di kepala.

Jadi jangan sampai mentang-mentang sepatu 1 juta, itu digantung dileher, truz kerudung yang 100ribu dibungkuskan, dipakai ke kaki. Berarti ibu tidak syukur. Jadi secara bahasa, sederhananya,

“Syukur itu menempatkan sesuatu secara proporsional. Menempatkan sesuatu pada tempatnya.”

Itu namanya syukur. Allah sudah memberikan kepada kita kenikmatan mata, telinga, jantung, ginjal, itu free of chargegratis, gratis kan? Kapan ibu bayar?😉 Engga pernah kan? Saya engga pernah bayar, dan kalau saya bayar tak ada di muka bumi ini seorang pun yang bisa membayar kembalian. Kalau ginjal seseorang itu bermasalah saja, harus cuci darah, 1x cuci darah 2-6 jam, bayarnya antara 500ribu sampai 1 juta. Seminggu tiga kali. Belum lagi engga senyaman orang yang normal. Dan kita gratis itu semuanya. Nah, ketika Allah memberikan berbagai macam kenikmatan itu, kita gunakan pada tempatnya, sesuai yang Allah ridhoi. Nah berarti kita orang yang syukur, artinya syukur itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Itu pengertian pertama.

Pengertian kedua,

“syukur itu mengandung makna selalu berikhtiar, mengembangkan apa yang sudah ada disekeliling kita“

contoh ibu punya toko, keuntungan per bulan itu 1 juta, nah orang yang syukur itu  suka berpikir begini,

“..bagaimana caranya bulan depan pelanggan saya nambah, lalu saya keuntungannya bisa dapet 2 juta. Sesudah 2 juta, saya berpikir bagaimana saya  dapet 3 juta. Tadinya 1 karyawan, saya jadi punya 2 karyawan,…”

Jadi orang yang syukur itu sebenarnya orang yang selalu berikhtiar mengembangkan apa yang Allah titipkan kepada dia, makanya ada ayat (buka Q.S. Ibrahim 14; ayat 7)

“Lainsyakartum laaziidannakum”

“Kalau kamu syukur, Aku akan tambah.”

Kalau putra-putri ibu sudah sekolah S1, karena ibu masih mempunyai kemampuan membiayai, ibu bilang,

“Ayo nak, sekolah lagi, mumpung mama masih mampu membiayai kamu.” Anak ibu tuh sekolah lagi, nah, setelah S2 dia sekolah lagi S3. Itu namanya syukur.

Keliru kalau gini, “..ayo nak sekolah lagi.” “..ah, aku mah D1 juga sudah Alhamdulillah. Ini juga hampir DO mama.”😉😀

Jadi orang yang syukur itu selalu mengembangkan kenikmatan yang ada pada dirinya untuk lebih besar lagi, untuk lebih besar lagi. Itu syukur dalam pengertian kedua.

Truz, syukur itu ada 2 sisi,

syukur dari sisi ukhrowi, itu harus melihat kepada yang lebih maju. Kalau syukur secara duniawi, itu harus lihat kepada orang yang lebih sulit.

Saya jabarkan ya, Jadi syukur itu ada 2 jenis. Dimensi ibadah, dimensi ukhrowi, syukur itu harus melihat kepada yang lebih besar.

”…haduh, tetanggaku kan rajin Tahajud, kok saya tidak rajin Tahajud. Kalau saya lihat tatapan matanya ibu-ibu disini, Dhuha-nya engga pernah terlewat. Subhanalloh. Saya harus Dhuha.

Jadi saya harus melihat kepada yang lebih bagus, jangan kepada yang lebih rendah.

“Ah, kok kamu Subuhnya kesiangan c. Alhamdulillah, sama aja temen aku, ya, Subuh-nya dijamak dengan Dhuhur, tahu engga?”😀😀😀

Nah, gitu, jadi jangan sampai urusan akherat itu lihat kepada orang yang lebih jelek.

“Loh kok kamu Sholat Asarnya maw menjelang maghrib?”

“Ih, Alhamdulillah, temen aku mah udah engga sholat Ashar taw engga?”

Itu mah engga boleh!!! Nah itu kalau urusan akhirat. Syukur itu melihat yang lebih sukses dari kita dan kita ingin lebih atau menyamai dia.

Nah, kalau syukur yang sifatnya duniawi, kata nabi,

“Lihatlah orang yang lebih sulit dari kamu, supaya kamu lebih bisa berterima kasih.”

Kalau suami ibu setiap bulan ngasih 2 juta, kalau ibu lihat yang 10 juta, engga akan syukur. Tapi kalau lihat ibuk itu, Alhamdulillah ya, suami saya masih ngasih 2 juta, kalau tetangga saya suaminya udah di PHK, engga dapet apa-apa lagi. Terima kasih Ayah, mudah-mudahan Allah memberkahi, gitu.

Itu syukur urusan duniawi itu lihat kepada yang lebih sulit. Ini penting buk, kalau ingin mensyukuri suami ibuk, lihatlah suami yang lebih jelek dari suami ibuk. Supaya syukur. Iya kan?😀😀😀 Jadi kalau lihat laki-laki yang lebih jelek dari suami ibuk, Alhamdulillah suamiku lebih ganteng.😀😀 Kesalahannya ibu selalu melihat laki-laki yang lebih ganteng dari suami ibu. Makanya begitu suami pulang, kok pas-pas an banget ya suami saya?😀😀

Pertanyaan Cheche Kirani:

Termasuk seringkali kita hanya memikirkan hak saja, hak kita sebagai manusia, ya ibuk, sebagai hamba Allah tanpa kita harus memikirkan kewajiban, padahal kewajiban itu lebih utama, dalam beribadah ya ustadz, apakah orang tipikal ini disebut sebagai orang yang tidak bersyukur?

Kita harus bersyukur atas yang Allah berikan, jangan sampai kita melihat ke atas terus, tanpa melihat ke bawah ya, ustadz ya. Karena Allah memberikan sesuatu kepada hambanya itu pasti yang terbaik dari Allah. Yang pasti itu ada hikmahnya untuk kita sebagi hambanya. Jadi, apa ya, jangan terlalu berlebihan juga meminta kepada Allah sesuai dengan porsi kita, ustadz ya. Sering kali ya itu tadi, hak kita selalu kita utamakan, tanpa kita harus tahu kewajiban apa yang harus kita lakukan. Bagaimana ustadz?

Jawaban ustad Aam:

Begini, tadi saya sudah katakan bahwa

syukur itu kata kuncinya adalah menempatkan sesuatu secara proporsional.

Kita sebagai makhluk, itu pasti punya hak juga punya kewajiban. Ibu sebagai istri punya hak, tapi ibu juga punya kewajiban. Ketika hak dan kewajiban itu kita lakukan secara balance, secara seimbang, secara proporsional berarti itu syukur. Tapi, kalau kita hanya menuntut hak saja, sementara kewajiban tidak dilakukan, maka yakin syukur tidak terjadi.

Makanya begini ibu-ibu, sesuatu itu menyejukkan bukan ditentukan oleh berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa kita mensyukuri apa yang ada di muka bumi ini. Jadi sesuatu itu menenangkan, bukan seberapa banyak yang anda punya, tetapi seberapa banyak yang kita syukuri. Sekarang walaupun mobil saya sederhana, rumah saya sederhana tetapi kalau saya memang menyukuri, itu boleh-boleh saja.

Bagus c rumahnya mewah, mobilnya mewah tetapi saya merasa cukup.😀😀 Tetapi maksud saya adalah ketenangan itu ketika kita mensyukuri apa yang ada di genggaman kita.

Syukuri aja yang ada, gitu, dan itu yang membuat kita bahagia. Tapi masalahnya, ini ada masalahnya ya,  hidup itu seringkali tidak seperti yang kita inginkan. Hidup itu seperti yang kita jalani.

Oke saya kasih ilustrasinya ya buk ya. Jawab dengan jujur. Buk, ada 2 pilihan, A ada seorang suami hidupnya sukses, bisnis sukses, tapi dia tidak punya waktu untuk ibuk. Tiap di telpon, ayah dimana? Ayah di Surabaya ngurusin bisnis. Ayah dimana? Ayah di Kalimantan, ayah ngurusin bisnis disana. Jadi ibu susah sekali ketemu sama suami ibuk, tetapi secara duniawi sukses. Ataukah ibu mendingan punya suami yang duniawinya biasa-biasa saja. Tapi di rumah saja, milih yang mana buk?😀😀😀

Tuh kan, ibuk maunya katanya sukses, tapi ada waktu untuk istri, tapi katanya engga terus di rumah juga. Nah, berarti kita berpikir kita ini lebih walau bagaimana pun hidup itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, tapi hidup itu seperti yang kita jalani. Makanya balance-kan, seimbangkan, antara hak dan kewajiban, nanti kita akan menjadi orang yang selalu menerima kenyataan apa adanya.

Makanya ibuk, kalau cari suami ideal, ibuk engga akan ketemu. Ini bapak-bapak niey, para pemirsa, anda engga mungkin sehari dapet istri yang ideal.

Engga ada istri ideal, engga ada suami ideal, yang ada adalah istri yang realistis atau suami yang realistis. Engga ada yang ideal, ideal mah nanti di akherat, itu pun juga kalau masuk surga.

Yang sempurna engga ada, adanya di akherat. Yang sempurna engga ada minus, apapun itu nanti di akherat. Kalau di dunia itu selalu ada nilai. Ibu bisa menemukan laki-laki yang plus terus, engga ada, mimpi itu😀😀 atau bapak-bapak, anda akan menemukan itu, istri yang sempurna, plus terus, engga ada. Makanya terimalah yang realistis aja.

Pertanyaan dari Ibu Heny:

Apakah salah bila seorang istri menuntut suaminya untuk memberikan gaji bulanannya itu naik terus tiap tahunnya. Karena memang kenyataannya seperti itu, kebutuhan kan naik terus.

Jawaban Ustadz Aam:

Jadi, bolehkah seorang istri, “Ayah, sejuta itu tahun lalu. Sekarang kan engga cukup. Sejuta setengah atuh ayah sekarang udah engga cukup”😀😀 “Boleh engga?” Yah, kalau untuk memusyawahkan “boleh”, boleh sekedar memusyawarahkan. Ayah, sekarang sejuta setengah udah engga cukup karena ini.. ini…. Boleh, tetapi tetap kita ke rumus yang tadi,

harus melihat kenyataan itu secara realistis.

Karena begini, ada seorang istri datang ke saya. “Pak, saya di dholimi oleh suami, coba bayangkan, saya kan punya 3 anak, dan yang satu SMA, SMP, SD, saya cuma di kasih satu juta setengah. Dholim suami saya sama saya. Saya ini bingung, saya ini di dholimi. Jadi istri tadi merasa apa buk? Merasa di dholimi. Truz saya bilang, “Buk, kayaknya saya harus ketemu dengan suami ibuk supaya ada solusi.” Saya ketemu sama suaminya, kata dia ke Pak Aam, satu juta setengah itu udah saya lembur, saya kasih semuanya.” Nah, berarti kalau begitu suaminya tidak dholim. Ini namanya kedholiman subyektif.

Jadi kedholiman subyektif itu, suami tidak dholim, tetapi istri merasa diholimi. Padahal sebenarnya itulah kemampuan suami. Jadi dalam hal ini istri yang harus memperbaiki sikap.

Yang namanya dholim itu begini, saya tanya suaminya, “.. berapa pak penghasilan per bulan?” “10 juta. Truz ke istri ya, satu juta setengah juga cukup.” “Trus yang 8 jutanya gimana?” “Ya, itu kan hak saya, saya foya-foya, …” Nah, baru itu dholim. Jadi buk, kalau suami ibuk tidak mencukupi kehidupan itu, belum tentu dholim. Belum tentu kalau memang kemampuannya segitu. Nah, jadi dengan demikian, sekedar curhat, cerita, ya engga apa-apa, nanti dibicarakan, dicarikan solusi-solusi yang lebih realistis. Bagaimana cara me-manage nya ya itu tanyakan ke konsultan manajemen keuangan rumah tangga.😀😀😀 Kebetulan bidang saya bukan itu. Intinya musyawarah itu harus, perlu dibicarakan.

Pertanyaan dari Ibu Ati Darwin:

Saya merasa penghasilan suami saya itu kecil sekali, bagaimana bila saya menambah penghasilan suami?

Jawaban Ustadz Aam:

Begini buk, rumus aslinya

yang wajib menafkahi istri itu suami, makanya tidak ada kewajiban seorang istri menafkahi keluarga, itu engga ada.

Sebenarnya penghasilan ibu itu 100% milik ibu. Sekali lagi saya sampaikan, ini ibuk tolong perhatikan, jadi penghasilan ibuk, itu 100% milik ibuk. Kenapa? Engga ada ayat yang mengatakan istri wajib menafkahi suami, itu engga ada. Yang ada adalah suami berkewajiban menafkahi istri

Seorang suami itu wajib menafkahi, menafkahkan, apa yang di dapatkan untuk kehidupan rumah tangga.

Tidak ada dalil yang mengatakan “istri menafkahi suami’, itu engga ada. Oleh karena itu apabila ibu dengan segala kerendahan hati, dengan keikhlasannya, waduh penghasilan suami engga cukup biarlah aku mencari nafkah, memenuhi . Ibu credit point-nya 2:

Satu, ibu sudah meringankan beban suami.

Yang kedua, ibu melakukan sesuatu yang bukan kewajiban

Ini credit point-nya luar biasa. Jadi bagi ibu-ibu yang sadar betul bahwa penghasilan suami tidak mencukupi keluarga, lalu kerja keras, ikut menambahi kekurangan, itu credit point-nya 2, Point pertama ibu sudah dengan kerelaan hati, yang kedua ibu melakukan sesuatu yang sangat mulia, karena kewajiban mencari nafkah bukan kewajiban ibu.

Komentar Cheche Kirani: Berarti uang istri=uang istri, uang suami=uang istri?😉😉

Komentar Ustadz Aam: .. Teh Cheche, urusan kaya gini detail sekali ya😀😀😀 saya bisa paham betul😀😀 Kalau suami mencari rezeki automaticaly milik istri. Karena suami berkewajiban menafkahi istri, tetapi kalau istri mencari rezeki tidak otomatis milik suami.

Komentar Cheche Kirani: Berarti duit suami untuk istri, duitnya istri milik istri, Alhamdulillah😀😀😉

Komentar Ustadz Aam: tetapi kalau teh Cheche berbagi itu amal soleh.😀😀 Point itu jangan dihilangkan ya.😉

Pertanyaan Cheche Kirani:

Kita sebagai manusia tidak lepas dari ujian yang Allah berika ya ustadz ya, bagaimana untuk tetap mensyukuri walaupun itu ujian yang datang dari Allah?

Jawaban Ustadz Aam:

Ini ada cerita antara suami dan istri, istrinya dinilai 6,7 sementara suaminya dapat nilai 2,3. Jangan menertawakan, itu takdir Allah. Istrinya 6,7. Suatu saat suaminya itu pulang kantor, begitu pulang kantor, suaminya nangis sambil memeluk istrinya.  Istrinya nanya, mas, apa c terjadi? Kok pulang kantor nangis. Kata suaminya, tadi di kantor ada acara halal bi halal, istri karyawan pada diundang, tapi kamu kan engga bisa datang, aku lihat istri-istri temen-temenku yang hadir, ternyata engga ada yang secantik kamu. Yang bikin aku nangis, karena aku punya istri secantik kamu, kalau kamu hadir di ruangan itu, kamu adalah makhluk Tuhan yang paling sexy. Engga ada duanya😀😀 Jadi kata suami, yang bikin aku nangis, aku bersyukur punya istri seperti kamu, mendengar jawaban itu istrinya nangis, terharu ‘kali, kata istrinya, mas, kalau mas bersyukur punya istri yang cantik, ketahuilah aku bersabar mempunyai suami seperti kamu.😀😀😀

Jadi buk, saya cerita hal ini bahwa syukur dan sabar adalah 2 sisi yang harus selalu berdampingan. Kenapa? Hidup itu tidak flat. Hidup itu naik turun, makanya begitu kita diuji dengan penderitaan, mentoknya di sabar, begitu kita diuji dengan kenikmatan, mentoknya di syukur. Ketika ibu diberi kesehatan, diberi rezeki yang cukup, bersyukurlah, tapi ada saat ibu diuji dengan sakit, maka bersabarlah, karena penyakit orang yang diuji dengan keterpurukan, dia sabar dan orang yang diuji dengan kesuksesan, dia syukur. Maka syukur dan sabar, adalah 2 sisi dari mata uang yang harus selalu berdampingan.

Nah makanya kembali pertanyaan Teh Cheche tadi, sebenarnya orang yang syukur itu seharusnya dia punya jiwa sabar dan orang yang punya jiwa sabar itu idealnya dia bersyukur. Jadi syukur dan sabar adalah 2 hal yang tak terpisahkan.

Di dalam sabar ada syukur.

Pertanyaan dari Ibu Febia:

Saya ingin menanyakan bagaimana apabila saya tidak dapat membalas kebaikan orang yang sudah banyak membantu saya, apakah dengan mendoakan saja sudah cukup pak ustadz?

Jawaban ustadz Aam:

Begini buk, pertama akhlak seorang muslim itu, dia akan membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih. Kalau bisa. Tapi kalaupun tidak bisa, maka dia bisa membalasnya dengan doa. Bahkan akhlak seorang muslim itu sampai pada titik

“Mereka itu mampu membalas keburukan orang lain dengan kebaikan.“

Coba ibu bayangkan, keburukan saja idealnya dibalas dengan kebaikan. Tetangga pelit, tetangga cemberut, ibu tersenyum. Tetangga dendam, ibu pemaaf. Suami khianat?

“Kamu dikhianati loh oleh suamimu!”

“Engga apa-apa, saya maafkan, mudah-mudahan suami saya insyaf. Karena tidak perlu pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan.” Ibu-ibu banget.

Jadi selalu membalas keburukan dengan kebaikan, apalagi kalau seseorang itu berbuat baik, balas dengan yang lebih baik, kalau tidak bisa membalas dengan yang lebih baik, minimal mendoakan. Bahkan buk, di dalam ajaran Islam itu kan ada ayat yang mengatakan

“Kalau ada orang yang meminta tolong kepadamu, ucapan yang baik, lebih Allah sukai daripada pemberian yang dibarengi dengan omongan yang menyakitkan.”

Tetangga ibu datang minta tolong, ibu bantu, tapi dari aku ya, tapi ingat, aku tuh bukan bank, yang setiap saat dimintai duit, bank juga perlu adanya pengembalian. Ibu membantu tetapi menyakitkan.

Tante ibu datang, aduh tante maaf, aku c ingin bantu, tapi bagaimana ya, maaf ya tante ya, mudah-mudahan Allah memberi jalan keluar yang lebih baikk, itu lebih bagus, ketimbang pemberian yang diimbangi dengan omongan yang menyakitkan. Mendoakan itu lebih baik, kata-kata yang baik, itu lebih baik.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Ustadz daari awal tadi kita membahas tentang rasa syukur kita kepada Allah, bagaimana c misalnya kalau kita ingin rasa syukur kita, kita bagi kepada sesama kita. Dengan cara apa. Kalau Allah, kita Alhamdulillah. Kalau dengan sesama manusia itu cara bersyukur kita seperti apa ustadz ya?

Jawaban Ustadz Aam:

Kalau kita bicara syukur ya, ada ayat mengatakan,

“Hendaklah kalian bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”

Ini contoh saja, bahwa ada syukur kepada sesama manusia dan syukur yang pertama kali yang kita lakukan setelah Allah, menurut Al Qur’an Surat Luqman itu, kepada  orang tua. Nah syukur kepada sesama manusia dalam lingkaran  pertama adalah bersyukur kepada orang tua, kalau beliau itu masih hidup, apa? jaga lisan kita, jangan sampai menyakiti perasaannya, jaga perilaku kita jangan mengecewakannya, itu bentuk syukur kepada orang tua yang masih hidup.  Bentuk syukur kepada orang tua yang sudah meninggal adalah selalu mendoakannya.

Nah, jadi lingkaran pertama syukur kepada sesama manusia adalah kepada orang tua, jaga ucapan dan perilaku kita supaya tidak mengecewakan mereka, karena ridho Allah tergantung kepada ridho orang tua.

Yang kedua, adalah syukur dari lingkaran berikutnya adalah lingkaran syukur kepada anak-anak. Kita juga harus bersyukur kepada anak-anak, dalam arti apa? Selalu kita memberikan penghargaan saat anak kita melakukan suatu kebaikan atau prestasi. Maaf, sering kali kita marah dan menegur kalau anak kita salah atau tidak berprestasi.

“Kamu rangking berapa nak?” Rangking 12.

“Muridnya berapa orang?” 13 orang.

“MasyaAllah, Bodo banget c kamu…”😀

 Jadi ketika anak ibu jelek nilainya ibu marah.

“Nak, kamu rangking berapa?” Dua mah.

“Weee, anak mamah hebat.”😉

Jadi ketika anak itu sukses, ibu tidak menghargai. Bentuk syukur kepada anak adalah hargai, ketika dia melakukan kebaikan. Kemudian syukur kepada yang lainnya lagi, itu selalu membalas keburukan orang lain itu dengan kebaikan, apalagi kalau orang itu berbuat kebaikan, kita balas lagi dengan yang lebih baik lagi.

Truz ada hal, dimana gini, sebenarnya syukur itu ada 3 level.

Pertama mensyukuri kehidupan.

Yang kedua mensyukuri akal, karena hanya manusia yang mempunyai kemampuan berpikir, kalau dalam piramid, dia lebih sedikit jumlahnya.

Dan yang ketiga, mensyukuri hidayah, karena tidak semua orang yang berakal itu diberi hidayah oleh Allah. Semoga saja, kita hadir disini, ini dalah bentuk syukur kita kepada Allah, syukur kepada kehidupan yang Allah berikan, mensyukuri kenikmatan akal yang Allah titipkan, dan yang tidak kalah penting, mensyukuri nikmat hidayah yang ada dalam hati kita.

Nah, dengan cara mensyukuri ketiga wilayah itu, maka Allah akan membalas segala syukur kita dengan syukur yang besar.

Thanks to:  Program TVOne Titian Qolbu, hari Senin pagi jam 03:30, tanggal 18 Juli 2011, tema As-Syakur (Maha Penerima Syukur), narasumber Ustadz Aam Amirudin, dipandu Cheche Kirani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s