Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki ahli kitab dan laki-laki musyrik

Assalamu ‘alaikum ……… ternyata Titian QolbuTVOne, dimulainya engga jam 03:00, tapi jam 03:30 baru mulai, tapi tadi telat bangunnya, udah jam 03:45 baru bangun. Tapi Tina masih bisa bagi2 niey… rekapan Titian QolbuTVOne tayang hari Kamis tanggal 31 Maret 2011, bersama Ustadz Aam Amirudin, tetep dipandu oleh Cheche Kirani. Tema kali ini tentang “Musyrik dan Ciri-cirinya”.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Allah Maha Pencipta segala sesuatu yang ada di muka bumi termasuk diri kita sebagai hamba Allah, tapi terkadang manusia lupa dengan apa ciptaan Allah sehingga membesar-besarkan apa yang Allah ciptakan, seolah-olah menjadi lalai dalam diri kita. Cerita itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita ya, ya mengagung-agungkan benda, mengagung-agungkan jabatan, mengagung-agungkan harta, menjadi sombong, ya ini bisa disebut musyrik ya ustad ya?

Jawaban Ustadz Aam:

Syirik itu memang levelnya macam-macam, ada leveling gitu ya, saya ingin menyebut syirik yang paling rendah, syirik yang paling rendah itu namanya syirik khofi, khofi itu artinya tersembunyi, jadi ada di dalam hadist dikatakan

syirik khofi itu seperti seekor semut hitam-di atas batu hitam-di tengah kegelapan malam, itulah syirik yang tersembunyi.

Saya ingin tanya, “Semutnya dimana buk?” “Di atas batu hitam.” Jangan salah, jangan bilang engga ada, ada! “Terlihatkah?”  “Tidak!” “Semutnya ada?” “Ada! Tapi tidak kelihatan!” Syirik yang paling rendah itu adalah kita tidak ngrasa kalau itu syirik. Contoh yang teh Cheche katakan. “Kamu sehat?” “Iya, Alhamdulillah, niey dokternya top, pokoknya dokternya hebat, saya sekali datang ya, dikasih obat” “Saya udah 3 kali ke dokter itu, engga sembuh-sembuh” “Ke dokter itu mah hebat.” Tahukah itu sebenarnya Syirik tersembunyi. Harusnya gini, “Ya, dengan pertolongan Allah, dengan izin Allah, saya datang ke dokter itu, Alhamdulillah, setelah diberi obat saya , Allah menyembuhkan saya.”

Misalnya saya bawa mobil, ban saya teh bocor, kempes, di jalan tol, saya udah minggir, saya maw bukak, dongkraknya engga ada, bingung kan saya, tiba-tiba Teh Cheche lihat mobil saya, pak, kenapa atuh? Untung ada teteh lihat saya. Teh, punya dongkrak engga, pinjem bentar deh. Kata-kata “untung saja”, sekarang pertanyaannya, “siapa yang membuat teteh bisa melihat?” Harusnya gini, Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, teteh lihat saya, kan tetehnya engga mungkin,  bisa saja engga lihat saya, di jalan tol. Tapi kok bisa lihat? Allah berkehendak seperti itu, jadi makanya kita supaya tidak terjebak pada syirik yang tersembunyi, selalu bilang Alhamdulillah, Subhanalloh, jadi dimasukkan dzikir.

“Kamu nilainya A?” “Ya-iya-lah, Rini gitu loh!”. Itu syirik khofi. “Kamu nilainya A?” “Alhamdulillah..” gitu. Jadi syirik khofi itu, bisa dihilangkan, disembuhkannya dengan dzikir. Itu contoh sederhana. Bahwa sebenarnya tidak ada orang yang betul-betuk pure betul-betul bersih dari syirik, hanya Alhamdulillahnya, syirik khofi itu bisa terhapuskan dengan amal sholeh, makanya ada keterangan kalau ada orang yang datang ke majelis taklim, setiap langkahnya penghapus dosa, lalu kalau orang melakukan sholat sunnah itu penghapus dosa, itu salah satunya dosa-dosa syirik kecil itu terampuni dengan amal-amalan sholeh seperti itu.

Pertanyaan dari ibu Lusminawati:

Apakah yang disebut musyrik dalam Al Qur’an dengan orang kafir saat ini?

Jawaban Ustad Aam:

Memang di Qur’an ada istilah musyrik, ada istilah kafir. Apakah musyrik itu sama dengan kafir? Begini, ada titik samanya dan ada titik bedanya. Kalau kafir, diambil dari kata “kafaro”, itu artinya menutup, orang kafir artinya orang yang hatinya tertutup dari cahaya Allah. Sekarang, kalau kita semua ini terlihat wajah teteh-teteh, wajah ibu-ibu terlihat karena ada cahaya, jadi kelihatan, sekarang walau ada cahaya, walaupun cahaya itu nyala, tapi ditutup, dia engga sampai ke kita. Orang kafir itu orang yang memang menutup diri dari cahaya Illahi. Makanya ada kata-kata

“Khotamallohu ala kullu fihim” Allah tutup hatinya, Allah tutup telinga, pendengarannya, penglihatannya, sehingga mereka tidak bisa menjangkau, tidak bisa merasakan cahaya Illahi itu sampai pada dirinya.”

Jadi kafir itu artinya menutup hati, menutup diri dari ajaran-ajaran kebaikan, nah sehingga kemudian diartikan kafir itu artinya orang yang menentang, karena menutup diri, engga maw, gitu. Jadi orang kafir itu, sama sekali memang sama sekali tidak percaya. Kalau syirik atau musyrik (orangnya=musyrik, perbuatannya=syirik), dia masih percaya. Kaya’ begini:

“Kamu percaya nabi Muhammad sebagai nabi?”

“Ya, iyalah, itu kan nabi kita.”

“Kamu percaya engga sama Allah?”

“Ya, iya lah, kan aku percaya rukun iman.”

Tapi, maaf, dia itu yang maw nikahin anak, konsulnya ke dukun…

“Duk, saya itu maw menikahkan anak yang ketiga, kira-kira bagusnya kapan ya?”

“Oh, nikahnya harus tanggal sekian, bulan sekian, nanti akad nikahnya harus jam sekian, setelah saya hitung itulah yang terbagus untuk anak ibu.”

“Tapi pak dukun, ini kan kalau hari Kamis itu nanggung, itu jam kerja, udah gitu jam 10 lagi”

“Itu yang terbaik untuk anak ibu. Ini saya udah saya hitung ini, saya udah dapat ilham, ibuk tuh percaya lagi”

Nah, itu namanya dia percaya sama Allah, percaya kepada nabi Muhammad, tetapi percaya sama ramalan-ramalan dukun, makanya nabi mengatakan, “Man ataka innan au arrofan la tukbal sholatul arbainna yauma“

“Siapa orang yang datang ke dukun, konsultasi dan mempercayai, dosanya sama dengan tidak sholat 40 hari”

Jadi kalau syirik itu boleh jadi dia masih percaya sama Allah, nabi Muhammad, tetapi menduakan, na… itu. Kalau kafir, memang engga percaya sama sekali.

“Kamu percaya engga sama Al Qur’an?”

“Engga. Saya engga percaya”

“Sama nabi Muhammad?”

“Engga”

“Sama Allah?”

“Engga, saya punya Allah lain.”

Naaa itu kafir. Kalau Syirik itu boleh jadi dia masih meyakini Allah, masih meyakini rukun iman, tapi menduakan itu, maaf, ada orang yang tetap menikah tapi tetap berselingkuh,  yang cerai. Kalau kafir mah cerai gitu. Kalau syirik mah berselingkuh, gitu. Masih tetep dia itu istrinya, tapi ada yang lain, na itu syirik. Jadi jelas perbedaannya ya buk.. 😀 Contohnya untuk ibu-ibu gitu terus, langsung ow iya..iya..jelas. 😀

Pertanyaan dari Wiwie:

Demokrasi kan merupakan salah satu cara memalingkan manusia dari petunjuk Allah ya. Bisa dijelaskan gag ustadz? Demokrasi memalingkan cara umat manusia dari petunjuk Allah Subhanahuwata’ala, menjadi musyrik, gitu. Istilahnya, menuhankan demokrasi.

Jawaban ustadz Aam:

Tadi di awal saya singgung bahwa tuhan itu macam-macam, sekarang ini katanya ada yang menuhankan demokrasi. Saya sependapat bahwa ada saat dimana demokrasi itu jadi suara tuhan. Karena kan di dalam demokrasi itu dianggap benar kalau itu suara terbanyak. Iya gag? Dalam pelajaran-pelajaran itu yang namanya demokrasi itu, katanya kalau lebih mempertimbangkan kepentingan orang banyak, pendapat orang banyak, gitu, makanya dalam demokrasi itu yang menjadi kriteria kebenaran adalah suara mayoritas, na…  apabila suara mayoritas itu dipegang teguh, katanya suara mayoritas rakyat adalah  suara tuhan. Na, demokrasi kan gitu, suara mayoritas rakyat adalah suara tuhan yang harus didengar, katanya gitu, ada benarnya, tapi ada salahnya. Apabila suara masyarakat itu adalah suara-suara yang sejalan dengan nilai-nilai kebenaran. Suara masyarakat, mengatakan bahwa yang namanya koruptor itu dihukum seberat-beratnya. Harus ada unsur jera, gitu, masa orang maling ayam 4 bulan dihukum, sementara sekian milyard cuma 3 tahun kemudian dapet potongan 2 tahun, gitu, ini mana keadilan? Na.. misalnya masyarakat mengatakan bersepakat bahwa yang namanya korupsi, seperti di China itu hukuman mati, hukum gantung. Na, misalnya itu mayoritas, kalau itu sejalan dengan nilai-nilai kebenaran, ya, itu ada benarnya. Bahwa

suara mayoritas adalah suara tuhan dalam arti lebih itu mengutamakan nilai-nilai kebenaran.

Tapi bisa saja suara mayoritas itu adalah suara setan.

Semua sepakat, bahwa tari striptis itu harus dilakukan, masa itu suara tuhan. Sebenarnya yang namanya demokrasi itu tergantung satu wilayahnya apa, untuk apa, jadi saya kurang sepakat kalau ada rumus demokrasi itu adalah suara tuhan. Suara mayoritas rakyat adalah suara tuhan. Saya kurang sependapat, tergantung rumusnya yang disepakati apa. Kalau itu sejalan dengan aturan-aturan agama kita, tapi kalau tidak ya,… akhirnya demokrasi itu kalau atas nama mengutamakan atas nama mayoritas kemudian itu menyalahi aturan Allah pada saat itu, maka demokrasi menjadi tuhan, jadi sama dengan menyekutukan. Makanya ketentuan-ketentuan Allah itu sudah tidak perlu dimusyawarahkan, ditanya, sepakat? Sepakat? Kalau itu ketentuan Allah ya harus kita sepakati.

Pertanyaan dari Vivie:

Di dalam Q.S. Al Baqarah 221, dijelaskan bahwa seorang muslim itu dilarang menikah dengan wanita musyrik ya ustadz, lalu bagaimana pandangan Al Qur’an itu sendiri mengenai kedudukan tentang wanita musyrik dengan wanita  Ahli Kitab?

Jawaban ustad Aam:

Di dalam kitab suci Al Qur’an ada yang namanya ahlul kitab. Ahlul kitab itu adalah orang-orang yang mengimani, meyakini Injil atau Tauret sebagai kitab sucinya. Maka para ahli tafsir mengatakan yang namanya ahlul kitab itu adalah saudara-saudara kita yang beragama Yahudi dan beragama Nasrani. Nasraninya terserah maw protestan, maw advent, pokoknya nasrani. Karena mereka sebenarnya rujukannya kepada kitab suci Injil. Na,

diantara para ahli tafsir itu ada 2 pendapat, ada yang mengatakan yang dimaksud dengan ahlil kitab itu adalah Yahudi dan Nashara yang zaman dulu, yang menyakini bahwa Isa itu nabi, sementara sekarang kan sudah berkeyakinan bahwa nabi Isa itu adalah Tuhan. Maka katanya sekarang tidak disebut ahli kitab. Namun Ibnu Abbas ahli tafsir terkemuka, seorang ahli tafsir pada zaman rasul, yang mana beliau itu pernah didoakan oleh rasul, “Ya Allah, fahamkan dia dalam agama,” kalau Ibnu Abbas berpendapat, bahwa ahlul kitab yang sekarang pun yang meyakini bahwa nabi Isa itu sebagai tuhan, ya disebut ahli kitab.

Naaa.. memang ada ketentuan dalam Q.S. Al Maidah bahwa laki-laki muslim boleh menikah dengan wanita ahli kitab. Saya misalnya muslim niey, boleh menikah dengan wanita ahli kitab. Baik ahli kitab yang dulu maupun ahli kitab yang sekarang, itu kalau menurut Ibnu Abbas. Sementara wanita musyrik adalah diluar yang meyakini Injil dan Tauret, makanya saudara-saudara kita sebangsa setanah air yang beragama Hindu, Budha, Konghucu, itu di dalam bahasa Al Qur’an kategorinya musyrik. Jadi kita ini laki-laki muslim tidak boleh menikahi wanita musyrik dan tidak boleh juga wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim.

Jadi kalau ingin saya sederhanakan, rumusnya begini, laki-laki muslim masih boleh menikah dengan wanita ahli kitab, dengan catatan si laki-laki muslim itu bisa membimbing istri dan anaknya yang kelak nanti bisa menjadi muslim. Sementara wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki ahli kitab. Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki musyrik. Ya, juga laki-laki  muslim tidak boleh menikah dengan perempuan musyrik.

Perempuan musyrik itu ya yang tidak mengimani Injil dan tauret, makanya kalau didefinisikan dalam bahasa riil di Indonesia, laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita yang beragama Konghucu, Budha, nah itu, saya karena saya harus clear, harus jelas begitu. Na itu karena ketentuannya Al Qur’an. Jadi kalau kita menjadi seorang muslim, ya kita berkomitment dengan agama kita, kalau mereka punya keyakinan, tentunya kita hargai.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Dikatakan di Q.S. At Taubah ayat 28, Hai orang-orang beriman sungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Sedemikian itu ya ustadz, ya, agak-agak sedikit mendengarnya gimana, sama aja donk kita bersentuhan gitukan, dengan hewan yang dikatakan haram. Apakah memang sedemikian yang harus kita hindari yang namanya musyrik yang berarti najis itu ya ustadz.

Jawaban ustadz Aam:

Di dalam Al Qur’an dikatakan,

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.”

Najis disitu bukan najis lahiriah, tetapi keimanan yang dicampurbaurkan dengan kemusyrikan itu adalah keimanan yang kotor. Najis disitu maksudnya imannya terkotori. Bukan fisiknya. Jadi kita sebenarnya tidak masalah saya berjabat tangan dengan laki-laki yang musyrik gag masalah. Jadi yang dimaksud musyrik itu najis maksudnya kalau kita orang-orang beriman jangan sampai keimanan kita itu dikotori oleh hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah. Saya ingin menunjukkan, tadi kan saya katakan bahwa syirik kan ada yang syrik khofi (syirik tersembunyi) seperti saya katakan semut hitam diatas batu hitam dia atas kegelapan malam, nah.. ada lagi yang namanya syirkul afghor itu syirik yang kecil. Dia lebih besar dari yang tadi. Syirkur afghor kata rasul, itu pamer atau riya’.

Jadi misalnya punya jam tangan, sini , jam nya bagus engga c? Taw engga harganya berapa? Kamu mah belum tentu bisa beli. Jadi ada unsur pamer, truz kalau misalnya kalau pakai tas baru itu, ih engga nanya sama aku? Nanya apa, tadi kan nanya. Ini!

Syirik afghor itu yaitu, pamer, gitu ya. Termasuk maaf ya buk,  juga pamer dengan kesholehan, liat mata aku, tadi malam aku tahajud, jadi misalnya, teh kenapa merah? Ya, kurang tidur. Kurang tidur kenapa? Anak sakit? Engga.. tahajudnya, Alhamdulillah, gitu jawabnya. Ini merah ya? Merah ya? Tahajud. Ini sampai sajadahku basah taw gag? 😀

Jadi ternyata ibadah juga jadi, maaf, kalau disini pernah ada yang seperti itu. 😀 Tapi urusan riya’ seperti itu sebenarnya urusan hati. Kalau misalnya saya ingin mengajak orang ya, kalau saya teh, sehari itu ya baca Qur’an lah, minimal 1 juz, niatnya biar teteh ngikut. Engga apa-apa.

Saya bilang sama adek saya, kamu belajar yang bener, aku tuh dulu walaupun kuliah sambil kerja, sambil cari duit sendiri, coba lihat nilainya, engga ada yang B! C semua, bisa A semua 😀 Engga ada yang B, A semua. Saya ngomong gitu ke adek saya niatnya supaya bisa belajar sungguh-sungguh. Dia udah engga usah mikir biaya kuliah, saya yang bayarin, saya mah dulu kuliah tuh bayar sendiri, cari rezeki sendiri, kamu belajar yang benar. Na, itu kan niatnya bukannya saya pamer dengan nilai, semuanya A, gitu ya, untuk meyakinkan biar dia bersemangat, tentu engga masalah.

Tapi memang urusan riya’ , tergantung hati. Ibu dari mana? Dari TVOne 😀 habis pengajian 😀 Ayo nanti kita kapan-kapan kita kesana, ini riya’ bukan? 😀 Bagaimana niat.. 😉 kalau niatnya,”.. ih kamu keren masuk tivi.” “Ya iya lah” 😀 Tapi kalau supaya orang mau ngaji, ibu akan bersemangat, bayangkan, mulainya aja setengah 4, bayangkan jam berapa aku datang 😀 Sekalian aku tahajud aku disana, misalnya 😀 Jadi artinya apa? Riya’ itu, pamer itu sebenarnya juga ada unsur niat.

Namun kata rasul,

sesungguhnya yang aku kutakuti dari segala yang aku takuti diantara manusia yaitu adalah syirik afghor, yaitu seneng pamer.

Kalau kita ingin menghindari dari syirik kecil itu, kecuali niatnya bukan ngajak pamer, tapi supaya ngajak orang berbondong-bondong. Na, yang paling bahaya itu syirikul akbar, syirik paling besar. Kalau syirik tersembunyi dan syirik afghor (syirik kecil) dengan amal sholeh bisa terhapuskan. Na kalau syirik akbar, itu harus dengan taubat. Syirik yang besar itu diantaranya syirku doa (syirik dalam berdoa),

mohon maaf, kita datang ke kuburan, minta pada kuburan, bukan minta sama Allah, ya Allah berikan kepada hamba kelancaran, misalnya. Harusnya minta begitu, ini engga. Saya maw ujian niey, saya datang ke kuburan ayah saya, besok saya maw ujian, beri kekuatan, agar saya bisa lulus ujian, saya mintanya ke bapak saya, yang sudah meninggal, nah ini syirik akbar, tidak boleh.

Atau mohon maaf niey. Jimat-jimat, misalnya ibuk dari Mekkah bawa potongan kain Ka’bah, truz ibu meyakini biar ibu jadi berwibawa, seolah-olah kewibawaan ibu itu dari kiswah, dari tutup ka’bah, hati-hati itu, itu jadi syirik akbar. Harus tobat kalau begitu. Jadi semoga terhindar terutama dari syirikul akbar.

Misalnya, mohon maaf, ibu ingin cantik,  ada yang ke dukun, ditempel itu, itu cepet tobat, kalau terbawa mati, syirik akbar itu. Sebenarnya syirik akbar itu masih banyak dilakukan sebagian besar umat islam, tapi mungkin mereka melakukannya, mungkin karena tidak tahu. Di TVOne inilah kita memberi tahu. Sekali bertobat, yakin Allah akan mengampuni tobat kita, dosa kita selama kita tidak mengulanginya lagi. Sebesar apapun dosa kita, mohon ampun, Allah akan mengampuni, asal tidak mengulangi lagi.

Thanks to: Program Titian QolbuTVOne, tayang 31 Maret 2011, by Ustadz Aam Amirudin, dipandu Cheche Kirani, tema:”Musyrik dan ciri-cirinya.”

 

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki ahli kitab dan laki-laki musyrik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s