…tawashobil haq, watawashobilshobr..

Contekan lagi dari program acara Damai Indonesiaku Ramadhan 1431 H, tayang Jum’at, tanggal 03 September 2010, di TVOne, pukul 03:00. Narasumber: Ustadz Aam Amirudin, Bapak Bripka Eko Hari Cahyono ,dan pemandu acara Ferry Ardiansyah. Tentang Kemuliaan Amanah.

Ini udah terlambat liatnya, udah jam 03:48, padahal mulainya jam 03:00, tapi  lumayan masih tercover😉

Ustadz Aam ingin menegaskan, amanah yang sudah disampaikan ada

1). Amanah kesehatan,

2). Amanah umur,

3). Amanah keluarga, keluarga disini anak, istri, suami, termasuk orang tua kita. Makanya kalau ditanya, ibu sudah tidak punya orang tua, atau bapak masih punya orang tua, kalau maw berbagi rezeki, kata bapak, “Mah, Lebaran ini bagi rezeki ya, ke kampung, ayah mumpung masih hidup.” “Huh, kampung lagi, kampung lagi”. Jangan begitu ya buk ya. Ibu harus support. Atau sebaliknya, orang tuanya ibu masih ada, orang tuanya ayah udah engga ada, itu di support. Itu namanya menjaga amanah.

4). Amanah Ilmu. Oleh Allah setiap orang itu dikaruniai ilmu berbeda-beda, kenapa? Karena kecerdasan kita beda-beda. Ada yang susah ngerti, cepet hafal. Ada yang susah sekali ngertinya,  tapi begitu ngerti, cepet lupa. Waktu di masjid c ngerti, tapi saat ditanya, Aam ceramahnya apa. Apa ya? Tadi aku ngerti c, tapi sekarang lupa, itu namanya susah ngerti, tapi cepet lupa. Tapi bapak dan ibu yang ada disini masuk di kategori yang gampang ngerti, susah lupa. Kelihatan matanya mata-mata cerdas. Tapi gini buk, ada kabar gembira,  orang yang ilmunya banyak itu tentu diauditnya lama oleh Allah, kan ilmunya banyak, kalau yang ilmunya sedikit kan ya sebentar ‘kali auditnya. Ini kabar gembira bagi yang kurang cerdas ya.😀 Jadi intinya tetap, bahwa Allah memberikan kepada kita amanah ilmu, ilmu apa pun, bukan hanya ilmu agama, dalam Islam itu semua ilmu mulia. Jadi bapak ibu jangan beranggapan, ilmu yang mulia itu hanya Qur’an dan Hadist, ilmu tentang praktik perang, ilmu tentang bom,  ilmu tentang persejataan, itu ilmu, kalau ditujukan untuk mempertahankan diri, membela kebaikan, kebenaran. Jelas kalau ilmu agama, jelas. Tapi ingat, di dalam Islam itu tidak ada istilah ilmu umum lebih rendah dari ilmu agama, engga ada. Semua ilmu itu datang dari Allah, pemilik ilmu adalah Allah, yang penting bagaimana caranya kita menjadi orang yang berilmu, semakin tinggi ilmu kita, kita semakin rendah hati di hadapan manusia, dan kita semakin dekat dengan Allah.

5). Amanah Pekerjaan. Siapa pun diri kita punya kegiatan, kalau saya sehari-hari pak ngajar, maka amanah saya adalah bagaimana saya mengajar di depan mahasiswa dengan sebaik-baiknya, tugas saya adalah I do my best for my students, saya lakukan yang terbaik untuk mahasiswa saya. Kalau maw ngajar, saya siapkan, saya bacaini baca itu, saya mengajar dengan sebaik-baiknya. Setelah saya mengajar mereka dengan sebaik-baiknya, ternyata mereka engga ngerti juga, engga masalah, toh ini udah bawaan lahir. Karena ini amanah saya. Kemuliaan amanah. Saya jelaskan, saya kasih contoh, tetep engga ngerti juga. Yang penting saya udah melakukan tugas saya dengan sebaik-baiknya, karena pekerjaan itu adalah amanah.

Ada narasumber juga Bapak Bripka Eko Hari Cahyono, salah satu satuan Gegana Brimob, Ferry menanyakan ke Pak Eko: waktu tugas di Aceh, bisa dijelaskan engga pak, katanya menjadi korban tembak waktu itu?

Jawaban Pak Eko: waktu itu Aceh masih ramai masalah GAM, saya diterjunkan di daerah konflik Aceh, waktu grebek panglima GAM wilayah Aceh Timur. Saya terkena tembak dari bawah telinga tembus ke pipi. Alhamdulillah sampai kejadian itu saya masih diberi umur panjang sampai sekarang.

Kata Ferry, sebagai pekerjaan adalah amanah, maka sebagai seorang prajurit harus siap. Bagaimana dengan keluarga.

Jawab Pak Eko: saat itu saya masih bujangan. Bapak dan ibu memang kaget, tapi setelah ada pengertian dari rekan-rekan bisa memaklumi-lah.

Tanya Ferry, evakuasinya bagaimana pak? Apakah sempat koma atau bagaimana?

Jawab Pak Eko: saya sempat koma 2 hari, waktu sadar itu terdengar Adzan Dhuhur.

Komentar ustadz Aam: Subhanalloh ya, jadi tersadarkan oleh Adzan. Sebenarnya begini, amanah pekerjaan itu masih berat tantangannya, itu pahalanya makin besar, Pak Eko itu tantangannya adalah  harus mempertaruhkan nyawa. Kalau saya kan berhadapan dengan mahasiswi, tantangannya adalah hati. Kalau Pak Eko di medan tempur, desingan-desingan peluru itu sudah terbiasa. Karena tantangan Pak Eko tantangan lebih berat, jelas pahalanya lebih besar, karena  Allah akan memberikan pahala sesuai dengan kadar.

Ferry bertanya, apakah Pak Eko pernah ditugaskan ke medan yang lebih berat?

Jawab Pak Eko: untuk sementara belum pernah ditugaskan ke tempat lain, tetapi kapan pun saya selalu siap ditugaskan di medan yang lebih berat.

Kata Ustadz Aam, seorang muslim itu memang bagi yang sudah mengambil suatu profesi, itu harus siap kapan pun. Jadi kalau mas Ferry sebagi host, maw jam 2 harus siap.  Misalnya seorang dokter kandungan. Dok, ini sudah pembukaan 9, kan engga mungkin dokternya bilang, udah tunggu nanti setelah Dhuhur. Memang mental seorang beriman yang menjaga amanah itu, siap dengan segala resiko, yang sudah mengambil amanah dari pekerjaan itu.

Pertanyaan dari Ferry Arsiansyah ke Pak Eko : pengalaman Pak Eko, pada saat menerima musibah, sempat engga pak mengalami trauma secara psikologis Pak?

Jawab pak Eko: sempat mengalami trauma, waktu itu kan udah lama bolak-balik rumah sakit, operasi, sempat mengalami trauma. Disamping itu saya juga masih bujangan, belum punya pacar, akhirnya itu menambah trauma saya waktu itu.

Pertanyaan dari Ferry: apakah trauma bapak itu tentang desingan peluru atau  saat penggrebekan waktu itu di Aceh,  begitu pak?

Jawab pak eko: kalau itu malah engga, tapi setelah desingan peluru itu yang bikin trauma, justru karena saat itu belum punya istri juga.

Pertanyaan Ferry: nah, sekarang bagaimana pak, sekarang sudah punya istri, apa peranan istri bagi bapak? Setelah bersedia bersedia dan menikah dengan bapak?

Jawab Pak Eko: Alhamdulilah, istri saya maw menerima apa adanya saya. Karena waktu pacaran itu wajah saya udah engga utuh. Lain dari yang dulu, kalau dulu kan masih banyak yang naksir.😀 Alhamdulillah udah dikaruniai 2 anak. Yang pertama udah umur 7 tahun, perempuan, yang ke-2 kemarin tahun baru udah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Ustadz Aam berkomentar, justru Pak Eko betapa di medan pertempuran itu berat, resikonya bahkan nyawa. Buk, kira-kira apa yang dirasakan oleh ibu?

Jawaban seorang ibu, rasanya was-was , semua campur aduk. ya semua . Penuh kegelisahan.

Pertanyaan Ferry: Cara menahannya gimana buk?

Dijawab ibu itu, ya dengan tawakal, berdoa.

Ustadz Aam berkomentar, ini ya untuk ibu-ibu , kalau suami ibu yang di rumah yang pergi jam 7 pulang jam 5 sore, masih berat ibu-ibu ini. Tiap ada berita apa, was-was, dan luar biasa, ternyata obatnya apa bu? Ketawakalan. Ah, pokoknya umur, kehidupan, kematian, ada di tangan-Mu Ya Allah. Itu membuat ibu tenang. Jadi ternyata salah satu yang membuat ibu tenang itu, jika kita menyerahkan kepada Allah. Selain itu saya melihat sisi yang dahsyat, pelajaran bagi ibu-ibu lain, bagi yang suaminya ngantor  jelas, itu harus lebih bersyukur.

Pertanyaan dari jamaah

Pertanyaan dari ibu Suratmi, menanyakan tentang amanah yang ketiga tadi, yaitu tentang keluarga. Kita masih punya orang tua, tapi tinggal ibu, kita masih punya anak, suami, mana yang harus kita dahulukan sebagai seorang istri, sedangkan keadaaan ortu juga kurang sehat.

Jawaban dari Ustadz Aam. Ini pertanyaan dahsayt ya bu😉 Itu merupakan cerita keseharian. Ada saat harus mengurus suami, anak, tetapi ortu juga perlu diurus. Contoh sederhana ada uang sebut saja seratus ribu, keperluan untuk keluarga pas segitu, ortu juga perlu, kadang-kadang itu contoh secara materi atau secara perhatian, apa yang harus kita lakukan. Pertama, tentu saja yang harus kita lakukan adalah bermusyawarah. Jadi pertama yang harus dilakukan adalah bermusyawarah, berbicara sama suami, “Ayah, ridho gag c kalau mama ingin nengok?” Jadi satu adalah musyawarah. Yang kedua, kita pun perlu memberikan sebuah pengertian kepada ortu kita, “Ibu, saya ini pengen sekali membantu, tapi kan si anak yang pertama harus sekolah, …” jadi saya yakin ortu kita akan mengerti, yang kadang penting kita lakukan adalah kita perlu menjelaskan.

Jangan sampai gini, “Duh mama ni sakit, engga ada yang nelpon, engga ada yang nengok, udah jadi orang udah pada lupa.” Padahal ibu engga lupa, tapi ibu bingung kan. Makanya minimal beritahukan, “…oww pantesan karena anaknya yang gedhe  lagi ujian, yang ke- 2 sakit, truz suami juga sedang ada di rumah,..” jadi minimal yang pertama adalah musyawarah, yang kedua menginformasikan. Kalau masalah dana, itu obrolkan saja dengan suami, karena saya juga belum bisa membantu buk,bagaimana solusinya😀 Jadi segala sesuatu itu akan ringan, kalau dibicarakan, disampaikan, karena kalau tidak disampaikan yang dikhawatirkan ortu kita membuat tafsir sendiri, pemikiran sendiri, akhirnya bersuudzon, “Ah, anak-anak udah engga sayang lagi sama mama,” itu jangan sampai terjadi. Makanya sampaikan, ceritakan.

Pertanyaan seorang ibu dari Bayangkari dari salah satu Gegana, ingin trik-trik dari pak ustadz, kami sebagi bayangkari terkadang suami kami tiba-tiba harus berangkat tugas, kami ditinggal dengan anak disini dan  keluarga kami jauh, untuk kami yang ditinggal suami karena tugas, biar kami bisa menjaga amanah sebagai istri dan sebagai ibu, kadang anak sakit, kami sakit, jauh dari keluarga, suami tidak ada. Bagaimana trik-trik kami sebagai bayangkari.

Jawaban Ustad Aam, kerja kita sebagai suami itu memang berat, tetapi ternyata tugas istri lebih berat aslinya. Makanya saya tidak percaya bahwa perempuan itu lemah, saya tidak pervaya.  “Ada engga, perempuan yang bisa membesarkan anaknya, single parent, ketika suaminya gugur, sudah tidak ada, itu istri membesarkan anak, tanpa kehadiran suami, dan anaknya sukses?” Banyak terjadi begitu. “Tapi adakah seorang suami ketika ditinggal wafat oleh istri, dia bisa membesarkan anaknya sampai sukses?” Saya sulit menemukannya.😀 Kalau ibu-ibu bisa pak, seorang ibu yang membesarkan anak, single parent. Tetapi sulit saya mencari alki-laki istrinya meninggal, sampai anak-anaknya sukses, dia senidiran. Biasanya gini, baru 3 bulan meninggal sang istrinya, udah langsung nikah lagi. Kalau dinyata, “Kok udah nikah lagi?” Jawabnya gini, “Iya, kasihan anak-anak.”😀  Ini hanya elaborasi dari pertanyaan ibuk😀

“Jadi begini buk, kalau kita bicara menjaga amanah, satu, kita harus yakin bahwa apapun kalau bicara amanah kita harus sadari bahwa akan dimintai pertanggungan jawab.” Karena ada hadist yang mengatakan

“Dua telapak kaki manusia, tidak akan bergeser pada hari kiamat dari tempatnya, kecuali dia harus memperpertanggunganjawabkan 4 hal, satu tentang umurnya, dua tentang masa mudanya, tiga tentang hartanya, dihabiskan dengan cara bagaimana, keempat tentang ilmunya, seberapa jauh dia berjuang, belajar, dan seberapa jauh dia mengamalkan.

Berarti rumus pertama untuk bisa menjaga amanah adalah sadari bahwa itu akan dimintai pertanggungan jawab.  Satu hal yang tidak boleh dilupakan, manusia itu kadang suka lupa. Maka salah satu tipsnya adalah tawashobil haq, watawashobilshobr, saling mengingatkan, nah disini misalnya amanah keluarga, itu kita berlapang hati, saling mengingatkan, ketika istri belum sholat, “Mah, udah sholat maghrib belom?” Istri segera, istri jangan gini. “Ah, papah juga belum tentu masuk sorga.”😀

Dengerin, laksanakan, karena itu bener. Kenapa? Karena kita sebagai suami harus berlapang hati, ketika istri kita mengatakan, “Ayah, udah sholat belum? “ Sholat.. Yang paling parah jangan sampai, anak kita rajin sholat, istri kita rajin sholat, kita sebagai kepala keluarga engga pernah sholat, itu yang memprihatinkan. Kenapa? Kan kita itu punya amanah yaitu anak dan istri, masak kita tidak memberikan keteladanan, contoh, anak rajin sholat kok kita engga.

Jadi point yang tidak kalah penting adalah untuk menjaga amanah adalah saling mengingatkan, tawabashobil haq, watawabilshobr. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.

Doa penutup

Ya Rohman Ya Rohim, Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampuni Ya Rabb kekhilafan kami, maafkan  Ya Allah segala kekeliruan kami, ampuni Ya Allah segala kekhilafan kedua orang tua kami, keluarga kami, berikanlah rahmat, berikanlah keberkahan, berikanlah ampunan untuk kedua orang tua kami

Ya Allah Ya Rohman, berikanlah kekuatan kepada kami untuk menjaga amanah apapun yang Engkau berikan, amanah ilmu, amanah harta, amanah keluarga, amanah pekerjaan, apapun amanah yang Engkau berikan, berikanlah Ya Allah kepada kami kekuatan untuk melaksanakan.

Allah Ya Rahman, andai suatu saat roh dan jasad  kami harus berpisah, panggilah kami dalam keadaaan khusnul khotimah, wafatkan kami dalam keadaan khusnul khotimah, jadikanlah Ya Allah kematian bagi kami, istirahat dari segala kepenatan dunia. Robbana atina fidun ya hasanah wa fil a khiroti hasanah wa qina ‘adzabannar. Amin Ya Arhama rohimin, Amin Ya Robbal alamin.

Thanks to: TVOne, program Damai Indonesiaku, tayang 03 September 2010, narasumber: Ustadz Aam Amirudin, Bapak Bripka Eko HAri Cahyono, dipandu Ferry Ardiansyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s