“Sopan santun kula mboten kesupen”

sopan santun kula mboten kesupen ^_^...

Perjalanan naik kendaraan umum seringnya tak lepas dari nyanyian demi nyanyian dari para pengamen, kadang dengan “seperangkat alat musiknya” siap melantunkan lagu-lagu favorit mereka atau kadang bisa jadi lagu favorit kita..😀 Walau di beberapa tempat kita pernah menemukan warning bila “Peduli tidak sama dengan memberi uang” , namun rasa iba di hati yang lebih kuat jadi juga memberi mereka “sesuatu”. Kalau udah begini c, menurutku lebih baik jangan merasa bersalah telanjur memberi-bagi yang udah telanjur memberi, namun juga jangan merasa bersalah bila kita tak memberi😉 Kembali ke warning dibeberapa tempat tadi, ada tulisan lanjutannya yaitu “salurkan uang receh anda pada organisasi sosial dan keagamaan.” Engga dikhususkan itu bagi anak-anak jalanan di sekitar lampu merah, namun bisa juga bagi para pengamen di dalam angkutan umum.

peduli tidak sama dengan memberi uang ^_^

Engga perlu kaget juga, bila yang namanya “pengamen”, atau bahkan “pengemis” udah jadi salah satu profesi di negeri kita ini. (**Tapi belum pernah baca c di KTP ada profesi seperti itu😦 .. ) Disini engga akan membahas tentang profesi mereka, namun dari sekian banyaknya pengamen, ada juga terselip dari lirik lagu mereka itu protes mereka pada lingkungan sekeliling mereka, merasa terpinggirkan, butuh pengakuan bahwa mereka manusia juga yang juga punya sopan-santun bermasyarakat. Seperti lirik lagu tadi siang saat ku ada diperjalanan pulang dari rumah kakakku.
Berikut ini lirik lagu mereka tadi:

Koyo ngene rasane dadi uwong pengangguran (Seperti ini rasanya jadi pengangguran)
Mrono mrene mung tansah dadi omongan (Kemanapun pergi selalu dadi omongan)
Opo meneh yen tanggane lagi kemalingan (Apalagi bila ada tetangga yang rumahnya kecurian)
Mesti wae dadi sasaran tuduhan (Pasti jadi sasaran tuduhan)

Mulo kuwi aku dadi pengamen (Makanya aku jadi pengamen)
Watone halal sithik yo wis ben (Asalkan halal sedikit tak mengapa)
Ora perlu aku isin ora perlu aku wedi (Engga perlu aku malu engga perlu aku takut)
wong golek kerjo angele kepati (karena mencari kerja amatlah sulit)
Ora perlu aku isin ora perlu aku gengsi (engga perlu aku malu engga perlu aku gengsi)
Timbang nyolong luwih becik ngene iki (daripada mencuri lebih baik seperti ini)

Pancen kulo niki bocah ngamen (Memang aku ini pengamen)
Yen di sawang kulo niki mboten kajen (Kalau dilihat aku ini tak berharga)
Tak kiro isih luwih utomo (Ku kira lebih baik)
Timbang korupsi duwite negara (Daripada korupsi uang negara)
Tak kiro isih ono ajine (Ku kira masih ada harganya)
Timbang maling pitik e tanggane (Daripada mencuri ayam tetangga)

Waduh pak e waduh buk e (Waduh bapak waduh ibuk)
Sing gedhe pangapurane (Tolong dimaafkan)
Yen kula ngganggu anggenipun sare (Bila aku mengganggu tidur)

Snajan kula cah ngamen Snajan kula cah ndalan (Walaupun aku pengamen walaupun aku anak jalanan)
Sopan santun kula mboten kesupen (Sopan-santun aku tak pernah lupakan)
Sopan santun kula mboten kesupen (Sopan-santun aku tak pernah lupakan)

—–
Makasih buat lirik lagu-nya mas, memang hidup penuh dengan perjuangan, so selamat berjuang… tetep sopan santun ampun kesupen😉 …. Semangat!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s