Engga sengaja lihat ”Gelar Budaya Etnis—Jogja Bumi Nusantara” di Monumen Serangan Umum ^_*

di Mirota Batik ^_^

Hari Sabtu malam, tanggal 10 Juli 2010 aku ngajakin keponakanku ke Malioboro, awalnya c cuma bosen aja truzz jalan-jalan wae… 😀 Diawali masuk Mirota Batik, super penuh dweh.. kita ke lantai 2 aja, sepertinya keponakanku lebih suka disini, banyak pernik-pernik semuanya ada disini… dari gelang, cincin, ikat pinggang, sandal, tas, dompet, patung-patung unik, sampai mainan di masa dulu. Barang-barang disini engga sembarangan seperti di pasaran pada umumnya, pokoknya semuanya unik, lucu, menarik, dan tentu saja bersejarah dan ada hubungannya dengan sejarah dan budaya Jogja. Misalnya gelang ya… gelang dengan berbagai bahan ada disini, dari kerang, perak, kulit, bijian, manik-manik, dan lain-lain tersedia disini. Mainan ada kuda lumping, seruling bambu, icik-icik, rebana, sempoa, dan masih banyak lagi yang bahkan aku engga taw namanya apa. Wah kalau disebutin satu-satu bakalan penuh niey … heehhe 😀 Kalau di lantai satu kata keponakanku dia engga nahan sama bau dupa-nya… 😉

kirik-kirikan ^_^

Keluar dari Mirota Batik, beli dulu minuman di depan pintu keluar, lumayan seger minum teh jasmine, satu dingin buatku dan panas buat keponakanku. Karena waktunya pendek, yaw udah kita jalan ke arah Benteng Vredeberg dan Monumen Serangan Umum, yang sedang ada moment Kwaliner (Kuliner, Waralaba, Indonesia Fair), naaaa…. di Monumen lagi ada Gelar Budaya Etnis-Jogja Bumi Nusantara, walau udah terlambat, namun tetep bisa mengikuti pertunjukan demi pertunjukkan selanjutnya.. aku dan keponakanku duduk di sisi kanan monumen berbaur dengan yang lain, walau engga terlalu dekat dengan panggung tapi lumayanlah…..waktu itu sedang posisi naik panggung seni dari Jogja yaitu tari kirik-kirikan yang menceritakan kehidupan sehari-hari agar tidak merasa menjadi orang yang merasa benar. Tarian kirik-kirikan ini lumayan lama, sekelompok penari menarikan satu sesi, kemudian muncul penari berikutnya, dan berikutnya lagi muncul raksasa bermulut seperti buto cakil…hehehhee… aku engga ngerti.. itu buto cakil atau bukan. .. 😀

rapai geleng ^_^

Usai pertunjukan dari Jogja, selanjutnya giliran pertunjukan dari Aceh….. beberapa kali MC menyarankan yang berada di depan pintu agar tidak berdiri di depan pintu Monumen Serangan Umum 1 Maret karena akan menutupi para penonton di belakangnya, dia menyarankan untuk menyaksikannya dari disisi sebelah kanan dan kiri masih longgar bila ingin duduk. Sembari menunggu kawan-kawan dari Aceh mempersiapkan diri, MC membacakan latar belakang dari Tari Rapai Geleng, katanya merupakan sebuah tarian yang berasal dari pesisir pantai Aceh Selatan, pada awal mulanya dimainkan oleh para santri yang mengisi waktu mereka di waktua senggang dan kemudian fungsi tari sebagai media dakwah melalui syair-syair ya berisi nasehat, sholawat kepada nabi, cerita sejarah nabi dan lain-lain. Ditarikan dengan cara duduk bersimpuh satu shaf atau barisan. Penari memainkan alat musik yang disebut rapai, sembari menggelengkan kepala sebagai gerakan yang sudah diatur. Selama tarian berlangsung seorang syeh atau penyair mengiringi dengan syair-syair yang dilantunkan dengan nada mendayu. Keunikan dari tarian ini terletak pada kekompakan dan semangat penarinya dalam menyamakan gerakan tubuh penari dengan ritme yang cepat. Langsung jatuh cinta dweh lihat tarian ini…. tiap kali para penari menampilkan gerakan semakin cepat dan kompak, tepuk tangan bergemuruh mengapresiasinya….

Berikut ini sedikit petikan syair pada tarian Rapai Geleng..

Nangro Aceh Darussalam
Kebudayaan tradisi bangsa

Kebudayaan kan lon kembangkan
Syariat Islam modal utama

Di Yogyakarta airnya biru
Tempat saudara mencuci muka
Kalau saudara yang meninggal dulu
Tunggulah kami dipintu surga

zapin ^_^

Ada telpon masuk saat tarian ini berlangsung… dari ibukku suruh kita balik… karena urusan udah selesai sehingga harus segera pulang… heu heu…. yaw udah… tapi kita tetep nungguin tarian Rapai Geleng usai. Hingga ke tarian daerah berikutnya dari Kepulauan Riau, yaitu Tarian Zapin Pulau Penyengat, joget toleh-menoleh, diiringin musik kompang, yaitu alat musik tradisional yang populer di masyarakat Melayu……………. kita masih di Monumen niey..hehehhe…”Zaaaaaapiiinnnnn…. aku dendangkan…. ”… si MC mencoba melantunkannya… 😀 …Diawali iring-iringan kelompok orang yang barisan paling depan dan belakang membawa sebentuk pohon palem berkilauan dan berwarna-warni, pertunjukkan diawali dengan pantun ala Melayu yang khas selalu berakhiran ’e .. ’e… 😀

Banyak nelayan menangkap ikan
Menangkap ikan pakai perahu
Awal salam saya ucapkan
Assalamu ’alaiku warahmatullohi wabarakatuh

Menjadi pemimpin harus trampil
Banyak belajar ke negri sebrang
Kesenian tradisional yang baru saja tampil
Tidaklah bukan kesenian kompang

Kompang merupakan alat musik gendang tradisional yang populer di masyarakat Melayu. Biasanya kompang dimainkan untuk mengiring pengantin, petinggi dan lain-lain. Pemain kompang biasanya bernyanyi ataupun bersyair dalam bahasa Arab ataupun bahasa Melayu

Baiklah ncik ncik.. puan puan adab Melayu di ranah kami…. adab paye kami suguhi inilah penari-penari yang sigak dan nan berseri.

Kepulauan Riau pulau bintan
Budaya dipegang jadikan sahabat
Mari kita beramai-ramai menyaksikan tari zapin pulau penyengat

pong pong-an ^_^

Cuma dikit kita menyaksikan tarian Zapin ini, karena khawatir ntar di cari-cari … kita pulang aja…. ehhh si keponakan minta dibelikan pong-pongan… itu loh seperti keong yang cangkangnya udah di cat warna-warni dan di kasih gambar macam-macam. Murah meriah… kalau beli satu Rp 2000,- namun kalau beli 3 Rp 5000,-…. beli 3 dweh akhirnya… hehhehehhhee 😀

Hmmmm malam yang ramai dan seru 😉

lo

2 thoughts on “Engga sengaja lihat ”Gelar Budaya Etnis—Jogja Bumi Nusantara” di Monumen Serangan Umum ^_*

  1. “Nangro Aceh Darussalam
    Kebudayaan tradisi bangsa
    Kebudayaan hendak kembangkan
    Syariat Islam modal utama”

    syair baris ketiga kurang tepat.
    yang bener
    “Kebudayaan kan lon kembangkan”

    artinya kebudayaan akan aku kembangkan

    sipp… kemaren juga kami galang dana di ALkid Untuk merapi…

    ada pertunjukan seruling, tari rateuh douk, likok pulo, dan rapa’i geleng…sipp0..

    • @kak fahmi..terima kasih atas koreksinya, udah saya revisi 😉 … memang ada salah dengar di telinga saya waktu itu.. yang bener “kebudayaan kan lon kembangkan”…

      btw sayangnya saya engga lihat galang dana untuk Merapi di Alkid kemarin.. pastinya seru juga tuh pertunjukkannya 😦 …

      makasih udah berkunjung 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s