“… sesungguhnya kamu sekalian, kelak akan dipanggil oleh Allah, pada hari kiamat, dengan nama kamu dan nama bapak-nya…”

Aku pernah di cur-hat-i sama seorang bapak kalau nama dia itu sebenarnya salah, karena terlalu tinggi. Aku waktu itu belum mikir tentang keseriusan beliau tentang itu. Setelah mengikuti Program acara Titian Qolbu TVOne yang pas tema-nya: “Etika memberi nama untuk anak”, aku baru “ngeh” tentang nama-nya yang dia bilang ketinggian itu. Sebenarnya tema ini udah tayang tanggal 22 Juli 2011, jam 03:30, tapi bahasan yang disampaikan oleh  Ustadz Taufiqurrahman itu sangat panjang, jadinya perlu extra perhatian. Namun program acara yang dipandu oleh Cheche Kirani itu sangat menarik untuk disimak. Yuuuuk check it out ….

Pertanyaan Cheche Kirani:

Kala kita memberi nama anak, kita tidak boleh sembarangan, karena nama itu adalah doa. Siapa c nama anak Ustadz?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Muhammad Ajril Giffari. Muhammad jelas artinya terpuji, Ajril, kalau mengambil ayat ‘falahun ajrul’ ; ajril merupakan upah atau ganjaran, dan Giffari, karena seneng aja sama sahabat Nabi yang namanya Abu Dzar Al Giffari.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Kenapa c ustadz memberi nama itu, doa juga ya ustadz ya?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Ya, kita sebagai orang tua buat anak-anak kita jelas ketika anak lahir, kalau meminjam bahasa nabi

Qullu mauludin yula’du ‘alal fitroh

Setiap bayi yang lahir, memang dalam kondisi bersih, suci, laksana kaset, masih kosong.

Itu silakan, maw diisikan rekaman apa, keong racun? :D :D :D Atau diisi dengan kenal dengan nama abi-nya, memang kadang-kadang kan, ingat ketika 4 tahunan yang lalu, semua lapisan masyarakat, orang dewasa, remaja, ingat apa? Ya, bahasa-nya indah.

Ya, toyiba, ya toyiba ya toyiba, ya da’wal a yanaa,  istaqnale wal hawa nada na wal hawa nada na

Bener engga bu? Ya benar, semua orang tua, remaja, anak-anak, dikenalkan,

Ya benar, “….. Ya Ali, Ya Ibn Abi Thalib, sahabat baiknya Ali…. “

Itu benar saya kaget saya, begitu 3 tahun berikutnya, itu lagu berubah, nadanya hampir sama, tapi berubah jadi,

Bang Thoyib, … :D :D :D

Ya Allah. Ya Rabbi, udah gitu, udah 3 kali Lebaran engga pulang-pulang lagi :D Untung saja, nama saya Taufiqurahman, kalau saya bang Thoyib, saya protes itu. :D

Ya Allah Ya Rabbi, nah, para pemirsa TVOne dimana pun anda berada, juga para jamaah yang ada di studio, singkatnya, memang nama itu, ya, merupakan merujuk kepada bahasa nabi, inilah ada hak kewajiban antara orang tua dan anak.

Ya maksudnya, ketika kewajiban orang tua terhadap anak, ya, ketika kewajiban dijalankan, maka jangan lagi di akhirat, di dunia pun itu anak engga akan menuntut kepada orang tua.

Karena merupakan hak mereka, berarti hak yaitu sesuatu yang harus mereka terima, ketika kita tidak berikan, dan itu kewajiban kita sebagai orang tua terhadap anak-anak kita, hati-hati jangan lagi di akhirat, untuk anak-anak zaman sekarang yang mereka kritis-kritis itu, ya, pasti akan menuntut diantara hak kewajiban yang pertama orang tua terhadap anak, yang pertama adalah, kata kanjeng nabi, memberikan nama yang baik.

Itu yang pertama, makanya nama menjadi urgent, menjadi penting, kenapa? Karena, kewajiban kita dan hak mereka.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Kalau tadi Ibu Syadia ya, bilang kalau nama “Muhammad” keberatan ustadz, kuatirnya engga sesuai dengan perilakunya, memang seberat apa c, anak ustadz “Muhammad” loh namanya, tergantung doa juga ‘kali ya?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Jadi singkatnya, yang namanya, Ahmad, Muhammad, itu makna yang sama, cuma dalam konteks, ya maknanya sama, ada terpuji-terpuji  juga. Merujuk kepada bahasa nabi kita, Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassalam, begini bahasanya, dikutib oleh Syekh Zainuddin bin Abd al-Azizi al-Malibari lewat salah satu kitabnya yang  bernama kitab Fath al-Muin didalam surahnya, kata kanjeng Nabi,

Innakum tud auna yaumal qiyamah bismi akma ikum wa asma ia baikum

Saya terjemahkan,

innakum — sesungguhnya kamu sekalian termasuk diri kita,

tud auna — kelak akan dipanggil oleh Allah,

yaumal qiyamah — pada hari kiamat,

bismi akma ikum wa asma ia baikum — dengan nama kamu dan nama bin-nya, dan nama bapaknya.

Oleh karena itu, kata kanjeng nabi, nama merupakan doa,

Fa hasinuu asma akum

Baguskanlah oleh kamu hai para orang tua terhadap anak-anak kamu,  dengan nama yang bagus-bagus, dengan nama yang cakep

Karena apa? Karena nama adalah doa.

Dan ketika kita melihat kilas balik sejarah, nabi begitu pindah, hijrah dari Mekkah ke Madinah, begitu dipersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan Anshor, yang nabi lakukan berikutnya adalah mengganti nama orang-orang Anshor, orang- Madinah, yang ada tadinya yang namanya bermakna kelelawar, diganti dengan nama yang baik-baik.

Yang dimaksud nama keberatan disini adalah seandainya  menamakan anak dengan nama Asmaul Husna tapi engga di majemukkan,

contoh, namanya Kohar, itu jelas  “Al”-lah- nya merupakan salah satu Asmaul Husna,

namanya Ghoffur, itu salah satu yang kalau kita baca, engga boleh kalau engga dimajemukkan, kalau bahasa Arabnya, tidak di dhofat-kan, apa? “harus dirangkaikan”,

Abdul Ghoffur— hamba Allah Yang Maha Pengampun,

Abdul Goffar— hamba Allah Yang Maha Gagah

Jadi yang gagah ini bukan anaknya, tetapi Allah, dan dia jadi “hamba”.

Ada orang Betawi bilang namanya bagus, ada nama “poyokan”, contoh Abdul Rosyid begitu dipanggil “Ocid” :D :D

Ada lagi namanya cakep, Pak Haji Muhammad Hasan, memang logat-logatnya agak kentel Jawa, jadinya Pak Haji muka macan :D :D :D

Komentar Cheche Kirani: khawatirnya gitu ya ustadz, khawatir agak melecehkan juga ya  ;-) ;-)

Pertanyaan Cheche Kirani:

Kalau misalnya  kita ingin memakai nama-nama agak  kebarat-baratan, asal pun artinya memang bagus, engga masalah kan ustadz?

Jawaban Ustadz taufiqurrahman:

Kalau makna Arabnya ada maknanya, silakan, karena memang tadi ingat ya, itu kewajiban kita sebagai orang tua terhadap anak, bahkan di dalam keterangan hadist yang lain tadi menyebutkan disebutkan berkaitan dengan yang namanya nama dan kaitannya dengan akikah. Kata kanjeng nabi

Al bula murtahil bil akhikah bihi

Setiap bayi yang lahir itu tergadai dan lunas dengan membayarkan  akikahnya

Tud bahu anhu

Dipotong rambutnya

Yaumutsabit

Pada hari yang ke tujuh

Wayuh lakurosuhu

Dicukur

Wayuh samma

Sambil diresmikan namanya.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Jadi memang bagusnya kita mempersiapkan nama bagi pemirsa mungkin, atau ibu-ibu yang punya cucu, ada yang dan pemirsa di rumah ada yang akan melahirkan anak, bagusnya itu memang mempersiapkan jauh-jauh hari, biar tahu artinya apa, ya ustadz?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Kalau perlu tanya dulu sama ustadz/ustadzah-nya, jangan sembarangan dari Qur’an, tapi ambil dari lafal jahanam, :D :D itu bagian dari neraka. :D :D

Pertanyaan Cheche Kirani:

Nama tadi adalah doa. Nah apabila sudah dewasa, sudah mempunyai pasangan, kita sebagai yang wanita apakah memang diperbolehkan ustadz, saya masih nama almarhum papa saya yaitu Sobari, setelah saya menikah, suami saya ingin namanya Wibawa, tapi tidak mengurangi rasa hormat suami saya, bila suami saya mengizinkan memakai nama Sobari, nama ayah saya? Seperti apakah pada pandangan Islam?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Merujuk kepada bahasa nabi kita, Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam, yang tadi sempet saya kutibkan hadist-nya

bismi akma ikum wa asma ia baikum

nama kamu dan nama bapak kamu

Jadi kalau ditanya bagaimana secara pandangan Islam, ya justru dianjurkan, ya orang-orang sekarang jangan malah merasa pintar,

Komentar Cheche Kirani: maaf ustdaz, kan kalau zaman dahulu, nama-namanya agak-agak aneh ya ustadz.

Memang minta maaf, orang-orang tua dahulu, ya mungkin jarang-jarang mendengarkan seperti syiar, seperti Titian Qolbu, kayak gini, kalau sekarang kan Alhamdulillah, setiap hari TVOne kan ada. Asal dia banyak mendengarkan untuk menambah ilmu pengetahuan, itu jelas-jelas dia orang-orang waktu dulu.

Dulu saja kadang-kadang ibuk, ya kalau sebelum Ramadhan, ada kan namanya bulan Sya’ban, ya buk ya, orang Jawa, orang Betawi, sering menyebut bulan Ruwah, ya kadang-kadang begitu, nyekar, ketika syawalan begini, kadang-kadang kalau menyebut leluhur malu sendiri, di dalam hati ketawa, malu sendiri, ada yang namanya ketok bin pentul :D :D Bukan cerita doank, ini betul-betul gitu.

Nah, kepada para pemirsa, dimana pun anda berada juga para jamaah yang ada disini, agama menganjurkan, ketika tadi mbak Cheche menanyakan, boleh engga ustadz ? Kalau disitu dianjurkan pakai nama bapak. Silakan.

Jangan kayak anak sekarang, bapaknya namanya cakep, Muhammad, ibuknya cakep namanya Fatimah, menyedihkan, sekarang, ibunya di panggil nyokap, bapak dipanggil bokap, digabung bonyok. :D :D

Pertanyaaan Ibu Diyah, majelis taklim:

Siapa yang utama memberikan nama anak, ayah atau ibu?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Ya berarti ketika tadi merujuk kepada hak kewajiban, orang tua terhadap anak, itu kompromi dari keduanya, memang Allah dalam bahasa AL Qur’an, ada surat Annisa ayat ke 34, dalam bahasa Al Qur’an, secara obyektif Allah, yang paling urgent adalah

Arrijallu qowammuna ‘alannisaa

Yang namanya suami, menjadi pemimpin terhadap istrinya.

Jadi yang paling urgent memang suami, tapi seandainya dia tidak otoriter, tidak diktator, dikompromikan itu tidak jadi masalah. Karena memang kewajiban berdua. Orang tuanya engga mau kalau dikatakan,

“kamu anak ayah,”

“.. ayah engga nglahirin tuh!!”  ;-)

“..ow, itu anak ibu kamu…”,

panjang nanti kalau cerita itu, tidak ada yang habis-habisnya itu. Singkatnya, anak, berdua dalam arti kewajiban,tapi paling utama adalah suaminya.

Pertanyaan Ibu Dian, majelis taklim:

Apa benar nama seorang anak itu akan mempengaruhi makna, arti-nya (perilakunya).

Jawaban Ustadaz Taufiqurrahman:

Ibu, itu nama, karena memang nabi menyebutkan merupakan doa, dan juga merujuk kepada sejarah yang telah nabi lakukan, begitu nabi ketika pindah dari Mekkah ke Yasrib, yang berubah nama menjadi Madinah, kemudian nabi mengubah nama-nama sahabat yang makna namanya jelek sehingga menjadikan dengan nama-nama yang bagus, nama-nama orang-orang yang bijaksana.

Jelas mempengaruhi, sangat amat mempengaruhi, makanya jangan asal-asalan memberikan nama kepada anak-anak kita. Itu berpengaruh, gitu, kepada kecenderungan,

Contoh, nama saya Taufiqurrahman, bukan berarti air laut, tapi kerasa, kaya kita ini, Ya Allah, syukur-syukur bisa kita pahami, berarti sinonim. Dalam artian, tak tahulah dengan namanya, itu pengaruh, gitu, makanya namakan, biar betul-betul nama-nama yang baik. Sangat berpengaruh.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Kita dalam menjalani waktu terkadang pemberian nama dari orang tua itu kita ganti, boleh engga c ustadz? Orang tua kita udah capek-capek ngasih kita nama tiba-tiba diganti sama kita, saya juga ganti nama niey? ;-) :D

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Kalau maw ganti tidak merusak kepada makna,

Nama, aslinya Ahmad Taufiq, dari orang tua, lalu jadi Taufiqurrahman, nah, itu engga mengganti kepada obyek-nya. Memang maknanya, intinya yang betul-betul menjadi benang merah adalah “Taufiq”-nya itu.

Ya, silakan saja. Jangan jadi jauh, ,misalnya

Nama dari awalnya cakep Muhammad , sampai di Jakarta menjadi Josep :D :D :D itu jauh maknanya, kalau gitu, jangan.

Nama cakep-cakep, Siti Maisaroh, sampai di kota menjadi “Maya”. :D :D :D  Itu berubah kepada makna dirinya.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Dan kalau kita berbicara mengenai nama, nama kita sudah tertanam ya ustadz ya, identitas kita, apa ya, apa pun kebutuhan hidup kita. Nah, apakah nama nanti kita ini, misalnya nanti ganti nama itu akan dipertanyakan juga nanti di akhirat?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Orang tua ketika dia telah menjalankan kewajibannya, lepas sudah. Dan ketika nanti anaknya dia mukhalaf, baligh, kalau perempuan ditandai dengan menstruasi, laki-laki sudah baligh, nah itu memang orang tua lepas tanggung jawab.

Nah makanya, makanya tolong di kaji di bahasa, ya wajar kalau ada yang menyebutkan salah nama, salah nama, kita koreksi, jadi nama itu engga sembarangan, bahasanya nama itu bubur merah, bubur putih dulu. :D :D

Nah, itu orang tua tidak bersalah. Seandainya anak kecil yang merubah, apalagi secara ugal-ugalan, jangan sembarangan, nanti diperanggungjawabkan kepada Tuhan, orang tua kewajiban sudah dia jalankan. Itu secara hukum agama.

Makanya kalau melihat kepada ini kayaknya, engga, dalam artian kalau kita hanya membicarakan nama saja dan kalau di lihat di dalam hadist-nya itu nabi menyebutkan

Berawal dari kepada hak dan kewajiban, bukan hanya nama, ya bahkan memang termasuk salah satu kewajiban yang utama,

pertama memang adalah memberi nama, tapi jangan bangga dulu, ketika orang tua sudah memberikan nama yang baik kepada mereka, ada lagi ditunggu dengan kewajiban-kewajiban yang berikutnya dan itu merupakan hak-hak anak itu.

Dan yang kedua, kata kanjeng Nabi, hadist-nya

Hudzqul walad ala wali

Hak anak terhadap orang tuanya, kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya, yang pertama jelas tadi kita sudah bahas sudah

Ayuhsi nasma’u

memberikan nama yang baik

Yang kedua, kata kanjeng nabi, lebih urgent lagi, apalagi melihat fenomena, kondisi di zaman sekarang, apalagi yang terutama yang kita hidup di ibu kota Jakarta, maupun dimana-mananya,  apa yang nomor dua? Lebih berat ini

Ayu ‘alimahul kitabata

Ajarkan kepada mereka supaya mereka engga buta dengan baca tulis Al Qur’an. Dari hadist ini, bukan harus anak menghafal Qur’an, tapi relasinya lebih universal, supaya engga buta dengan isi kandungan Qur’an.

Komentar Cheche Kirani: jangan sampai bisa baca Al Qur’an tetapi engga mengamalkan ya ustadz. Komentar Ustadz Taufiqurrahman: berarti ilmu dunia ada, ilmu agama juga ada.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Dan kalau kita memberi nama kepada anak, harus ada syaratnya engga c ustadz? Apa yang harus kita lakukan orang tua, apakah memberikan jauh-jauh hari, seperti sudah saya sampaikan atau pun mungkin bisa bertanya kepada orang yang lebih tua seperti orang tua kita, alim ulama ?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Ada baiknya seandainya menyamakan presepsi ya nama kita kita udah punya, udah punya persiapan, kompromi antara suami istri, saat anak belum lahir kalau Allah mengizinkan anak yang lahir ini laki-laki kita akan namakan si Fulan, seandainya kalau nanti yang lahir perempuan lalu dipersiapkan nama si Fulan. Tapi ada baiknya kita tukar pikiran dengan mereka-mereka yang memang piawai dalam bidangnya, gitu, dalam artian ya nama-nama itu bahkan lebih ini lagi, seandainya ingin lebih meyakinkan lagi kehati-hatian kita, juga silakan istikhoroh-kan.

Kadang-kadang kan begitu kita tanya, ya pengalaman yang pernah banyak terjadi gitu kan, nanya kepada ulama. Telah memberikan nama ini, nanya kepada ulama, nanya lagi sama gurunya, memberikan nama ini, nah, kita bimbang  ini, seperti di dalam hadist

Semuanya bagus, nama-nama bagus tentunya ada yang lebih terbagus.

Nah, bagaimana? Ya sudah, cobalah kita samakan presepsi kita dengan Allah Subhanahu wata’ala. Silakan kita istikhorohkan. Jadi ya memang anak c betul-betul, ya dibilang susah juga gampang, dibilang gampang juga susah. Dalam artian engga boleh sembarangan gitu. Silakanlah kita ber-istikhoroh terlebih dahulu ketimbang kita nanti menganggap remeh, kita nanti malah menyesal belakangan.

Pertanyaan dari Ibu Titin, majelis taklim:

Apa saja yang tidak dianjurkan dalam memberikan nama untuk anak kita?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Yang engga diperbolehkan,

Tadi pertama dengan memakai nama Asmaul Husna yang tidak di majemukkan

Yang kedua, nama-nama lawan-lawan daripada musuh-musuh nabi,

misalkan Qorun (kan kaya tuh, ustadz ;-) ), itu sejarah betul, tapi kurang bagus sejarahnya, dia terkenal orang yang bakhil.

Contoh lagi, namain anak niey, engga boleh ini, Fir’aun ;-) , jelas-jelas, makanya asal kata faro yafirru, ana ya unu auna – Orang yang lari dari pertolongan Allah, itu Fir’aun, makanya jangan.

Silakan, nama-nama yang pengen agak nge-trend sedikit, ustadz ada nama-nama nabi-nya, seperti kolaborasi dengan nama-nama yang sekarang nge-trend, silakan, cuma tidak keluar kepada makna doa buat anak itu sendiri.

Nama dari bahasa Arab banyak kok, tinggal beli bukunya lantas ditanyain pada yang lebih ngerti maknanya.

Pertanyaan ibu dari majelis taklim:

Apa bener, ada hukum haram dan makhruh dalam pemberian nama anak

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Jadi jelas-jelas, ini masih ada kaitannya dengan pertanyaan tadi, kalau kita namain anak kita langsung

Nama Jabar, Qohar, — diharamkan, karena bukan tempatnya.

Itulah kadang-kadang suka orang tua bilang, nama bukan jelek kok, misalnya

Khoirullah – itu kan cakep maknanya, cuma khawatir, itu kan nama Asmaul Husna, yang nama Allah mah bagus, engga ada cacatnya, cuma karena ini dikondisikan nama hamba Allah, harus kita dhofatkan, harus dimajemukkan dengan pengakuan hamba-nya.

Kalau langsung pure nama Allah saja, ini yang kadang-kadang suka terpelintir, suka disebut keberatan nama, dianjurkan, harus di majemukkan, dengan tambahan pengakuan hambanya. Nah, inilah yang sering disebut keberatan nama, padahal itu karena melanggar kepada aturan agama. Kasihan yang punya nama.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Kadang kita mendengar ada anak yang sakit-sakitan, yang nakal banget, itu, udahlah ganti nama aja. Gitu. Pakai nama ini kok Alhamdulillah, kok jadi sehat, sekolahnya rajin, jadi rangking, itu memang berpengaruh ustadz ya?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Sebenarnya, tadi makanya ketika kita memberikan nama, seperti tadi saya bilang kan jangan sampai menyesal belakangan. Bahkan tidak dilarang orang tua untuk  kita istikhorohkan terlebih dahulu, gitu, karena dari situ ada mungkin, ama itu ya ini betul-betul menjadi nanti menjadi perilaku dari anaknya itu. Nah, itu biar betul-betul benar, biar nanti engga salah-lah, maka dengan nama yang bagus.

Komentar Cheche Kirani: sebelum beri nama, baca bismillah dulu, ya ustadz ya.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Apakah memang ketika pemberian kepada nama anak itu disambung dengan akikah atau bagaimana prosesnya, ustadz?

Jawaban Ustadz Taufiqurrahman:

Ya, merujuk kepada bahasa nabi, memang disebutkan

Setiap bayi yang baru lahir, anak siapa pun dia namanya, tergadai dan bisa lunas dengan melaksanakan akikahnya.

Kalau memang ada  rezekinya, sebagai orang tua, pengennya anaknya yang terbaik kan. Apa dianjurkan, kata kanjeng nabi

Disembelihkan, kalau dia anak laki-laki 2 ekor kambing, perempuan 1 ekor kambing,

Ya memang secara aturan ajaran agama kalau mengikuti pada perbuatan nabi, di hari ke-7, bukan berarti memberikan nama harus hari ke-7, dari hari pertama pun karena orang tua mempersiapkan silakan, cuma bahasanya kalau boleh dikatakan, diresmikannya dihari ke-7 sampai di akikahkan, kemudian disimpulkan dipotong rambutnya, bahkan kalau ajaran rosul kita itu baik, ditimbang berapa banyak beratnya, kemudia diukurkan harga emas berapa, uangnya, disedekahkan kepada yang berhak menerima.

Itu sudah termasuk pendidikan ajaran yang sangat mulia itu, karena semenjak masih bayi sudah diajarkan supaya ini anak dari memberi nama, juga kedepannya mudah-mudahan menjadi anak yang murah tangan.

Nah seandainya ustadz, tidak bisa hari ke7, nabi menganjurkan kelipatan ke-7, di hari ke 14, 14 engga mampu, ya di hari ke 21, 21 engga mampu terus ke kelipatan ke 7 lagi, 28, engga mampu juga. Ya syukur-syukur, mudah-mudahan anaknya ke depan  Allah memberi kemampuan, silakan dia pribadi mengakikahkan.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Nah, tadi melanjutkan kewajiban kita sebagai orang tua selain memberikan nama, memberikan akikah, ada yang lain, ustadz?

Jawaban Ustadz taufiqurrahman:

Engga adil kalau kita cuma menyebutkan nama saja, nabi menyebutkan yang lebih urgent, apa?

Ajarkan kepada mereka supaya mereka engga buta dengan ilmu pengetahuan.

Pengetahuan apa? Ilmu pengetahuan tentang dunia dan tetang agama.

Orang tua sering mengajarkan ibu, jika dunia kamu kejar, akhirat kamu lupakan, maka ya insyaAllah, agama bagus, tapi kalau agama kamu tambahkan dunia juga kamu ikutin, insyaAllah dunia ikut.

Nah ini kewajiban orang tua disamping nama anak yang baik buat mereka. Ajarkan kepada mereka, kalau perlu crosscheck dulu, karena sekarang udah banyak model macemnya, khawatir, bisa-bisa nanti jangankan sama orang tua, sama gurunya berani ngelawan. Naudzubillahimindzalik. Tuh kewajiban orang tua.

Truz yang ketiga, nama sudah cakep, pendidikan agama Ya Allah bagus sudah, ada lagi yang ketiga untuk membentuk mereka akhlakul karimah.

Jangan sekali-kali kita kasih makan kecuali dari hasil yang halal.

Jadi jangan sampai kita silau dengan dunia, silau dalam dunia bagaimana?

Ada cobaan mendapatkan banyak keuntungan tapi hasilnya dari hasil engga bener, kasihan, karena yang namanya makan sesuatu yang urgent, sesuatu kita makan kita kasih, kata kanjeng nabi, menjadi suatu syukur perbuatan. Kalau kita masukkan dari hal yang halal, itikad, akan beritikad perbuatannya halal. Kalau kita masukkan dari hal yang haram, akan ketuker, akan beritikad pada perbuatan yang haram.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Yang udah telanjur ustadz, mungkin beliau-beliau, mereka-mereka yang memberi nama tidak tahu  etika memberi nama anak sekaligus doa. Kemudian telanjur menjadi nama anak, istilahnya tidak menjadi doa atau asal-asalan, apa yang harus dilakukan ustadz?

Jawaban ustadz Taufiqurrahman:

Pengalaman yang pernah saya alami dan terjadi, ketika mengaji dengan guru saya di Jakarta. Ada orang besar, orang tajir, gitu, mungkin ketika memang dia Betawi tulen, namanya maknanya “sendal”. ;) Nah begitu,  seandainya ini pemirsa yang menceritakan keluarganya ada, yang berani bertanggungjawab, bukan mengada-ada. Jadi ketika dia menjadi orang besar, bos kontrakan, dan begitu ngaji dengan guru-guru, namanya diganti, menjadi cakep, Jamali (keindahan). Langsung, dia nerima, ya memang begitu seharusnya.

Komentar Cheche Kirani: engga apa-apa langsung diubah ya.

Semoga anak-anak kita selalu dalam keadaan sehat wal afiat, sholeh dan sholehah, Aamiin.

Thanks to: TVOne, program acara Titian Qolbu, tayang 22 Juli 2011, tema: “Etika memberi nama untuk anak”, narasumber: Ustadz Taufiqurrahman, dipandu Cheche Kirani.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s