“… untuk orang yang beriman, kematian itu adalah hadiah..”

Contekan Titian Qolbu tayang 04 Juli 2011 ini butuh kecermatan tersendiri, jadinya nyontek-nya belakangan ;)  Apalagi tema-nya cukup bikin terpana, .. nah loh.. apa coba? Tema: Esensi mengingat kematian. Narasumbernya adalah Ustadz Aswan Faisal, masih dipandu oleh Cheche Kirani.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Banyak orang yang takut mendengar kata mati, kalau saya c insyaAllah berdoa, “Ya Allah matikan hawa nafsu saya, matikan ke-iri-an saya, matikan hati saya untuk tidak ngomongin orang lain.” Jadi sebenarnya mati itu bagaimana c ustadz?

Jawaban Ustadz Aswan:

Kematian, mati, kalau kita bicara tentang mati, sesuatu yang hidup yang dihidupkan, pasti akan dimatikan. Seandainya seseorang menghidupkan lampu, ketika matahari terbenam, maka ada waktu lampu itu akan mati. Kecuali mati lampu. :D :D Kemudian identiknya dengan kita sebagai hamba Allah, sebagai makhluk maka sungguh kematian itu adalah suatu kewajiban, untuk itu dalam firman Allah disebutkan,

“Qulunnafsidzaaiqotul mauut.”

“Setiap yang mempunyai jiwa, setiap yang bernafas, pasti dia akan mengalami kematian.”

Jadi kita sebagai hamba Allah sebagai makhluknya yang dihidupkan, pasti kita punya arti kehidupan. Belakangan ini manusia cenderung dikalahkan dengan kehidupan, mengorbankan arti kehidupan demi kehidupan. Padahal ketika seseorang dihidupkan oleh Allah sesuatu yang kita hidupkan misalnya dari perkakas atau suatu peralatan maka kita berharap sesuatu dari yang kita hidupkan, kalau kita sebagai manusia, namun karena kita sebagai hamba Allah yang disebut sebagai makhluk-Nya , Allah Subhanahu wata’ala sudah jelaskan

“Wamaqholaqotul jinna wal innsa illaaliya’buduun.”

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali tujuan mereka adalah untuk menghamba, menyembah kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Kematian adalah suatu kewajiban, ibarat pintu, siapa orang yang hidup di permukaan bumi ini tidak pernah melewati pintu, pasti mereka akan melewati pintu .

“Almautu baahun walla walla tutakhiruun”

Dalam sebuah ucapan disebutkan bahwa, “Kematian itu adalah pintu, setiap manusia akan memasukinya.”

coba kita hitung berapa kali dalam sehari kita keluar masuk pintu.

Begitulah pula dengan kematian.

Jadi ibu-ibuk saya maw tanya niey, pada mau masuk surga engga? Mau. Semua saya yakin pada mau masuk surga. Tapi pertanyaan kedua, mau mati engga? :D :D

Pertanyaan Cheche Kirani:

Ustadz kita sebagai orang yang beriman, kita kayak-nya  pengen buru-buru mati, ingin bertemu dengan Allah mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita perbuat di dunia ini, gitu ya ustadz ya. Nah, kalau orangnya yang disebutkan tadi, engga mau mati, maw enaknya saja, kadang bilang, “.. duh Ya Allah inget mati, masih banyak dosa.” Upaya yang gimana c untuk kita mengingat kematian itu setiap saat ustadz, tidak hanya ketika diuji saja oleh Allah, begitu?

Jawaban Ustadz Aswan:

Yang harus kita pahami pertama, bahwa Al-maut, kematian itu adalah hadiah buat orang-orang beriman. Jadi tadi saya tanyakan kepada ibu, kepada para pemirsa,

“… mau masuk sorga?” Mau, katanya.

“Mau mati?” Diem. :D

“Bagaimana kita masuk sorga, kalau kita engga mati?“ :D :D

Nah, untuk orang yang beriman, kematian itu adalah hadiah, kenapa? Karena kematian itu adalah jembatan menuju sang kekasih, makanya dalam sebuah firman Allah disebutkan

“Fatamalaul mauta inkuntumshodikiin.”

“Dambakanlah kematian, jikalau engkau betul-betul adalah orang-orang yang beriman.”

Jadi kalau orang yang beriman itu mengharap kematian, karena akan berjumpa dengan amalnya.

“Walyatamanahu walyatamanahu lahuu abadammbima kasabat aidihim”

“Dan ada juga orang yang tidak berharap kematian, karena perilaku buruk yang dilakukan.”

“Wallohu ‘alimun dholimin”

“Allah tahu, Allah paham, orang-orang yang berbuat dholim.”

Jadi kematian itu sebenarnya tidak perlu ditakutkan, karena kematian itu pasti datang. Dan kematian itu sifatnya membuat kita terkejut. Padahal tadi pagi baru kita lihat dia sedang lari pagi, sorenya tersiar kabar meninggal dunia. Rasul bersabda:

“Kematian itu mengagetkan, buat kita yang mendengarnya.”

Ya Allah, padahal badannya sehat, kekar, sedang menjabat, sedang diberikan tender oleh perusahaan, sedang dapat bisnis besar, tapi kematian tidak memandang dia siapapun, kematian akan datang dan tidak akan bisa dihalangi.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Berbicara tentang kematian pun kita selalu berdoa ya buk ya, semoga kita meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Berarti kita melakukan amal-amal yang baik, ibadah-ibadah yang baik. Jangan sampai kita meninggal dalam keadaan Su’ul khotimah itu, seperti apa c ustadz yang dimaksud su’ul khotimah itu?

Jawaban Ustadz Aswan:

Ada hal yang harus kita pahami pertama adalah yang mau mengingat kematian itu tidak banyak. Jadi yang mau mengingat kematian tidak banyak, hanya sedikit, pasti ada sebabnya. Kenapa kok orang cenderung tidak ingin mau mengingat kematian, ada yang bilang takut.

“Ah, kematian itu nanti bikin jadi bisnis saya kurang lancar, mengingat kematian itu bikin tender saya engga bakal jebol, engga dapet-dapet, jadi tolong  jauh-jauh deh dari mengingat kematian.”

Padahal itu adalah kalimat yang keliru dan keliru besar, Imam Ghozali dam kitab Ihya umuluddin menjelaskan disana bahwa

“Memang tidak banyak orang yang mengingat kematian, hanya sedikit, apa sebabnya? Karena dengan mengingat kematian akan mengurangi, akan mengganggu ketekunan seseorang dari dunia.“

Jadi kalau udah ingat kematian, diajak dugem, ya gitu lah ya. Yuk kita dugem malam ini. Baru denger ceramah ustadz. Ya ini yang dikhawatirkan. Orang-orang yang jauh dari mengingat kematian itu akan tenggelam dalam kedurhakaan, karena sungguh dalam sebuah hadist Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala mengkaruniakan dunia itu kepada siapa yang dia cintai dan kepada siapa yang dia benci.”

Jadi Allah itu Maha Adil, Allah itu engga seperti kita, yang kita sayang aja kita perhatikan, yang kita tidak sayang, yang kita benci, kita lalaikan, tidak seperti itu. Namun alangkah ruginya apabila manusia kurang mengingat kematian. Padahal dengan mengingat kematian bisnisnya akan berjalan dengan lebih baik di atas landasan kehidupan. Apabila diberikan amanah, diberikan kepercayaan, karunia kepercayaan, maka ia menangis. Jadi beda sekali dengan orang-orang yang beriman ketika dia diamanahkan, atau baru dinaik jabatan, itu bukan sebaliknya seperti yang sekarang berlaku, mengadakan pesta 7 hari 7 malam, 7 kerbau, 7 sapi, istri? :D :D Engga boleh :D :D . Tapi orang-orang sholeh, orang-orang yang amanah, orang-orang beriman, itu mereka menangis di tengah malam. “Ya Allah betapa berat amanah yang engkau titipkan kepadaku, bagaimana mungkin suatu hari ketika aku lalai dalam menjalankan amanah itu, dan engkau cabut ruh-ku dan aku dalam keadaan berdosa, maka akan ada su’ul khotimah. Naudzubillahimindzalik..

Tetapi sebaliknya ketika seorang mengingat kematian kemudian dia berlaku adil dalam perusahaannya, pernah baik didalam jabatannya, kemudian amanah ataupun yang diberikan entah itu kecil atau besar, amanah, tanpa memandang sikap, tanpa pilih kasih dalam urusan amanah. Kemudian dia wafat dalam keadaan amanah, subhanalloh, dia wafat dalam keadaan husnul khotimah. Itu tadi Teh Cheche sebutkan, sering-seringlah berdoa,

“Allohuma inna nas aluka khusnal khotimah wala na’audzukabi su’ilkhotimah”

Ini yang kita lakukan di tengah malam, berdzikir, di tengah kegelapan malam, kita perbanyak dengan Istighfar

“Robbana gholamna anfusana wailantaghfirlana  waj’alna walakunanna minal khosirin.”

Air mata teringat dosa dan perbuatan yang kita lakukan kedholiman, kemudian kita memohon kepada Allah Khusnal khotimah, insyaAllah bahagia dunia dan akhirat. Amin.

Pertanyaan:

Saya suka merasa takut dengan kematian. Karena saya merasa masih banyak pekerjaan, anak-anak yang kecil, bagaimana dengan mereka nanti. Apa wajar dari perasaan ini yang timbul dalam diri saya ustadz.

Jawaban Ustadz Aswan:

Bicara wajar, secara manusiawi, mungkin boleh disebut wajar, di awal saya sudah sebutkan bahwa orang beriman itu justru rindu dengan kematian. Kenapa? Karena saya ingin bertemu dengan amal sholehnya, ingin bertemu dengan Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana nabiulloh Ibrohim, ketika beliau bertemu dengan malaikat maut, malaikat itu berkata, bahwa Allah ingin bertemu dengan dirimu. Nabiulloh Ibrohim meneteskan air mata, Ya Allah, Sang kekasih yang setiap malam aku rindu. Ya Allah aku rindu ingin bertemu dengan Allah. Dengan rasa senang, orang-orang sholih akan menjemput kematian tanpa ada beban sedikitpun.

Nah, Imam Ghozali dalam kitab Ihya umuluddin menjelaskan tentang pertanyaan ibu

Ada 2 macam, manusia yang takut kematian

Yang pertama adalah karena takut kematian ini dia benci, dengan kebenciannya ini dia berbuat kedurhakaan dan dia tidak mau memikirkan kematian. Sampai ada orang-orang frustasi ngomong, disebutkan orang frustasi itu ngomong begini, “Yah, hidup kan sekali, kita puas-puasin saja,” Ini orang yang frustasi, orang-orang durhaka, melakukan kedurhakaan.

Dan kemudian yang kedua, ada orang yang takut untuk mengingat kematian, karena apa? Karena merasa amalnya belum cukup. Itu dia, Imam Ghozali mengatakan, ketakutan itu tidak masalah, bahkan ketakutan ini bagus, namun dengan catatan, ketakutan ini harus kita persiapkan diri. Untuk apa? Beramal sholeh atau berbuat kebajikan, karena dunia ini adalah sawah ladang tempat kita menanam amanah yang akan kita panen, kita petik di akhirat.

Pertanyaan dari Ibu Tina:

Apa yang harus saya perbuat dengan keadaan saya yang sudah berumur dan serba kekurangan, tetapi saya tetap bersemangat agar dari garis keturunan saya lebih baik dari segi ekonominya.

Komentar Cheche Kirani: bagaimana kita mengelola agar kematian itu selalu kita ingat.

Jawaban Ustadz Aswan:

Pertanyaan yang bagus sekali ya, tentang ketakutan atau kekhawatiran pada kematian, kemudian kita harus tetap berusaha meninggalkan warisan, ya? Ow, keturunan, ya? Kira in warisan:D ;) Kalau warisan itu hati-hati, ibu, warisan itu ada yang dibagi secara adil ada yang dibagi dengan berkelahi. InsyaAllah kalau yang begitu, bukan majelis taklim yang disini ya :D .

Allah menjadikan dunia ini sebagai tempat kita untuk beramal sholih, berbuat kebajikan, kemudian dalam sebuah ucapan disebutkan

“Ikmaliduniaka ka ana ta’isyu abada wa’mal biakhirotika ka anaka tamutu bada.”

“Bekerjalah kamu dalam urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu, seakan-akan kau akan mati besok.”

Kelihatannya 2 hal ini bertolak belakang, tapi sebenarnya tidak, sebagai orang yang beriman ketika dia menjadi seorang manajer, seorang supervisor, seorang pimpinan perusahaan, pemegang saham atau presiden direktur-kah dia,  atau kah direktur-kah dia? Ketika ia memimpin, mengarahkan arah perusahaan kemudian mendapatkan profit, dengan mengingat kematian, maka  dia akan menjalankannya di atas landasan kejujuran. Kata siapa bisnis kalau jujur tidak berhasil. Ow jangan salah, justru inilah kalimat yang sering membuat manusia tergelincir, padahal tidak sedikit kita perhatikan perusahaan-perusahaan yang mereka berlandaskan kebaikan, berlandaskan kebenaran, mereka tetap tumbuh kembang.

Coba perhatikan tentang usaha atau bisnis perbankan, coba perhatikan disana ada kejujuran, disana ada ketelitian, disana mereka membuka apa adanya, akhirnya mendapatkan kepercayaan dari siapa? Dari masyarakat, dari nasabah. Makin dipercaya, makin benar, maka insyaAllah makin banyak nasabah yang datang.

Bukan sebaliknya manusia yang jauh dari kebenaran. Kemudian dia lari dari ajaran Allah maka naudzubillah, boleh jadi dia dapat harta, dapat kekayaan, dapat jabatan, tetapi  dibangun di atas kedurhakaan. Ini akan diambil keberkahannya oleh Allah subhanahuwata’ala. Perhatikan orang kaya, perusahaan besar, tapi seperti hilang keberkahan. Mereka itu adalah manusia-manusia yang tentu mendekatkan diri pada kedurhakaan, akhirnya kemaksiatan. Jadi silakan jadi orang kaya, tidak masalah, namun orang kaya yang mau berbekal untuk kebahagiaan akhirat.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Bagaimana ustadz, kita ingin selalu mengingat kematian tetapi sepertinya tetap tidak mempan, tetep saja gitu, kita takut terhadap apa yang ada di dunia, istilahnya begitu ya ustadz ya, karena itu harta, anak, istri, suami, itu kan hanya titipan semata ya ustadz ya. Bagaimana c untuk tetap bisa ya itu tadi, insyaAllah kita banyak harta, tetap kita ingat pada kematian, dan berbuat hal yang baik ya ustadz.

Jawaban Ustadz Aswan:

Betul, jadi ada beberapa cara ya, yang diajarkan oleh orang-orang terdahulu, orang-orang sholih yaitu

Yang pertama, mau mendatangi saudara-saudara kita yang kesulitan, mau berkunjung ke tempat mereka. Ketika kita datang ke fakir miskin, ke dhuafa, anak yatim, atau anak-anak yang terkena penyakit berat, ada rasa , “Ya Allah ternyata aku lebih baik, keluargaku, anakku lebih sehat.”

Yang kedua, dia mendatangi tempat orang-orang sakit. Ternyata nilai sakit itu kenapa kok selalu diketahui oleh orang yang sakit. Coba perhatikan nikmatnya punya gigi sehat, itu kalau lagi sakit gigi. Disebelah kita ada orang makan kacang, masyaAllah. Kemudian, indahnya nilai masa muda itu diketahui oleh siapa? Oleh orang-orang tua. Tapi apa daya, tidak mungkin kita bisa mengundurkan waktu, atau memutar waktu. Kemudian apa? Nikmatnya, indahnya nilai waktu kosong itu buat yang sibuk, akhirnya lupa ibadah, lupa sholat, lupa keluarga, dia  lupa segala-galanya demi urusan dunia, dan nilai indahnya nilai kehidupan itu dapat diketahui oleh siapa? Oleh orang-orang yang sudah meninggal dunia. Prinsipnya

“Wamal ayaatudunnya illa masya’ulghuruunn”

“Dan tidaklah kehidupan dunia itu, kecuali permata yang membuat  kita lupa, lalai, sehingga apa? Sehingga kita akhirnya terbangun kesadarannya.”

Mudah-mudahan dengan terbangun kesadarannya, bahwa hidup ini hanya sementara, ibarat orang pengen pergi ke tujuan, berhenti di terminal, naik bis dulu, engga mungkin tinggal di terminal.

Komentar Cheche Kirani: Jadi harus sering-sering wisata ke ruang ICU ya ustadz ya.

Komentar Ustadz Aswan: iya.

Pertanyaan dari Ibu Ida Widia:

Saya ingin menanyakan saya merencanakan dengan suami ingin terus-menerus mengumpulakan rizki sebanyak-banyaknya sampai-sampai kami rela mengorbankan waktu untuk berkumpul dengan keluarga agar bila suatu saat nanti kami tiada, anak-anak kami bisa bertahan hidup. Bagaimana menurut pak ustadz apakah langkah yang saya ambil dengan suami sudah benar?

Jawaban Ustadz Aswan:

Pertanyaannya dahsyat. Tentang meninggalkan untuk anak keturunan kita ya. Tidak salah sebenarnya kita meninggalkan safety, kalau dari bahasa keuangan, dari segi materi. Para nabi dahulu ketika dia dalam keadaan sakaratul maut, ketika meninggalkan dunia, ibu, maaf, ketika dia akan meninggalkan dunia ulama terdahulu itu, para nabi ngomong sama anaknya:

“Ma ta’budu na mimba’di”

“Apa yang akan kalian sembah, setelah kematianku?”

Kalau belakangan ini kan beda ya,

“Ma ta’kulu na mimba’di”

“Kalau aku meninggal, kalian makan apa?”

Nah, kira-kira bertolak belakang ya ibuk ya. Para nabi tidak salah. Kita pun mempunyai pikiran, “Ya Allah, saya ingin meninggalkan harta untuk anak keturunan saya.” Silakan. Engga ada masalah, namun agar harta itu membawa manfaat untuk diri, membawa manfaat untuk keluarga, dan anak,  serta masyarakat, maka yang harus kita tekankan pada anak-anak bahwa harta ini bukanlah peninggalan kita yang dapat menyelamatkan, tapi bagaimana agar harta ini yang kita berikan dan kita titipkan kepada anak-anak kita ini, setelah kita wafat, akan menjadi keberkahan, berbuah amal dan akhirnya sampai ke dalam kubur. Ketika si anak ini dengan kekayaan orang tuanya. “Ya Allah aku sedekahkan uang ini untuk ayahku, agar ayahku diberikan kebahagiaan dalam kuburnya.” Maka doa itu sampai tembus ke dalam kubur orang tuanya. Jadi ini, yang harus kita perhatikan adalah silakan meninggalkan harta benda namun titipkan juga amanah kebaikan.

Komentar Cheche Kirani: tidak hanya harta, tapi ilmu yang bermanfaat ya ustadz ya, juga anak-anak yang sholeh yang mendoakan.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Apa c hikmah yang harus kita ambil dari semua esensi mengingat kematian?

Jawaban Ustadz:

Yang pertama yang harus kita perhatikan adalah

“Katakanlah, sungguh kematian itu akan menjumpaimu, kematian yang engkau lari darinya, itu akan mendatangimu, pasti. Dengan kematian itu engkau akan dikembalikan kepada Tuhanmu, Yang Maha Mengetahui dan Allah akan membuka amal perbuatanmu,  setelah kematianmu. “

Ada beberapa hikmah mengingat kematian,

Yang pertama adalah dengan mengingat kematian maka kita akan ingin mempercepat atau menyegerakan bertaubat.

Kemudian yang kedua, dengan mengingat kematian maka ada satu sifat yang baik dilahirkan darinya yaitu sifat qonaah, tidak rakus, tidak korupsi, karena korupsi itu lahir dari sifat rakus. Dari istilah mumpung menjabat, mumpung diberikan kekuasaan, pangkat jabatan.

Kemudian yang ketiga, hikmah kematian itu adalah membuat kita untuk giat beribadah.

Bagaimana ustadz, dengan orang yang lalai dari mengingat kematian. Maka akan lahir juga 3 hal,

Yang pertama yaitu ia akan menanti-nantikan tobat, maksudnya bukan dinanti, di ‘entarkan’ tobatnya, dimundurkan tobatnya. Kenapa? Kalau menjabat saya ingat kematian, “..ah ustadz, bisnis saya nanti engga bakalan berhasil..” Tapi apalah daya, akhirnya masa terus berjalan, makin keriput, tubuh makin lemah, baru ketika sudah tua jompo kita baru ingin bertobat, perjalanan waktumu sudah terlalu panjang, kau lalaikan, kau lewatkan.

Kemudian yang kedua, orang yang lalai dalam kematian, maka orang tersebut akan melahirkan sifat masa bodoh, sifat rakus, sifat korupsi, kolusi, nepotisme yang sangat kuat.

Dan yang ketiga, yang lebih rusak lagi adalah kalau ia melupakan untuk ingat kematian, maka akan lahir sifat malas beribadah. Naudzubillahimdzalik.

Komentar Cheche Kirani:

Makanya ada yang bilang, bagaimana c agar sholat itu lebih khusuk?  Ingat saja itu saat kita selesai sholat ya ustdaz ya. Anggap saja kita maw mati. Itu berat ya ustadz ya.

Tanggapan Ustadz Aswan:

Kita melatih seperti itu. Kenapa?

Karena kalau kita mati, bapak, ibu, pemirsa yang dirahmati Allah, kalau kita wafat, kita dimasukkan ke dalam liang kubur yang gelap, padahal saat itu terang benderang. Ketika sudah ditutup papan, mulai ditimbun tanah, suara yang tadi bising di luar lubang liang lahat, mulai  terasa sunyi, sepi, kemudian tidak terdengar suara apa-apa lagi, padahal hari itu siang, dikuburkan siang hari. Setelah ditutup tanah, Subhanalloh, gelap minta ampun, jangankan kita bicara, melihat orang lain, jari yang ada di wajah kita saja, tidak terlihat. Mulailah ketika ditinggalkan, datanglah malaikat penanya, munkar wa nakir, di dalam kitab-kitab orang-orang sholeh terdahulu, dikatakan bahwa ketika malaikat munkar dan nakir itu hendak datang, tapak langkah kakinya terdengar sejauh 500 kilometer. Bahkan disebutkan ketika munkar nakir sudah berhadapan dengan kita, maka bukan lagi mengeluarkan suara yang suara itu lebih keras 300 daripada suara petir. Saat itu bergetar langsung, tiada ada yang dapat menyelamatkan kecuali rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala. Kecuali amal yang kita pernah lakukan kebaikan di dunia.

Karena kematian akan menghampiri kita, kapan pun, dimana pun, kita tidak pernah tahu. Tugas kita sebagai hamba Allah kita mempersiapkan diri kita.

Thanks to: Program TVOne Titian Qolbu, tayang 04 Juli 2011, Tema: Esensi Mengingat Kematian, narasumber: Ustadz Aswan Faisal , dipandu Cheche Kirani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s