“.. qodho sholat itu bukan sebuah keringanan dari Allah, tapi itu sebuah pelunasan atas hutang sholat yang kita kerjakan… “

Waduh, terlambat niey nyimak program Titian Qolbu TVOne pagi ini, edisi 11 Juli 2011, Tema-nya masih tahu, yaitu “Keringanan dalam Beribadah”, narasumbernya Ustadz Solmed (Ustadz Soleh Mahmoed), masih dipandu oleh Cheche Kirani, jam 03:45 baru gabung tuh acara, biasanya c jam 03:30 udah di mulai. Tapi contekan ini masih bisa dapet dweh… :D check in out ;)

Pertanyaan Cheche Kirani:

Bentuk rasa terima kasih kita kepada Allah kalau saya adalah dengan sholat, juga dengan doa. Dan oleh karena itu kita janganlah kita sekali-kali meninggalkan sholat, nah kalau kita ingin meninggalkan sholat wajib, tentu Allah akan memberi keringanan bagi hambanya untuk selalu mudah untuk sholat, silakan ustadz. Yang 4 jadi 2, ya ustadz ya.

Jawaban Ustadz Solmed:

Sholat itu memang perkara yang amat sangat dahsyat. Kenapa dahsyat? Setiap perintah yang Allah perintahkan semua melalui perantara, Jibril alaihissalam menyampaikan pesan wahyu dari Allah untuk kekasihnya Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam. Tapi berbeda dengan sholat, sholat langsung. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam dipanggil oleh Allah, langsung bertatapan wajah, berhadap-hadapan, lalu kemudian diberikanlah sebuah perintah syariat sholat 5 waktu untuk kita semuanya. Alhamdulillah. Bahkan Rasul memberikan suatu peringatan dan warning kepada kita

Pertama kali amal ibadah yang dihisab, yang dihitung oleh Allah Subhanahu wata’ala atas hambanya adalah sholatnya.

Bagus sholatnya, baik sholatnya, baik juga semua amal perbuatannya, ibadahnya. Begitu rusak saja sholatnya, enggan, dia malas untuk melaksanakan ibadah sholat, maka rusak semua amal perbuatan yang dia lakukan. Itulah salah satu bentuk betapa pentingnya  sholat untuk kita umat Islam.

Nah, tapi tidak sampai disitu, walaupun begitu amat penting, tapi Allah begitu Rahman, begitu Rohim, menandakan di dalam Islam ada Rahmah, ada kasih sayang, yang dikenal dengan rukhsoh.

Rukhsoh itu artinya sebuah keringanan, dispensasi, yang Allah berikan kepada kita, hamba-hambanya.

Ketika kita melakukan perjalanan, misalnya, tiba-tiba tidak ada makanan, tidak ada minuman, kecuali cuma bangkai. Maka untuk menyelamatkan nyawa dan jiwa kita, itu dikenal dengan rukhsoh wajib. Keringanan itu harus diambil, tidak boleh tidak, karena kalau tidak kita makan, ada barang haram misalnya, mohon maaf, misalnya begitu di tengah gurun, mohon maaf, ada babi lewat, hanya itu satu-satunya makanan yang bisa dimakan, maka itu sebuah rukhsoh wajib, sebuah keringanan yang Allah berikan, tetapi wajib untuk diambil. Maka kita harus memakannya, tetapi meskipun itu barang yang haram, itu sebentuk kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala dalam rangka menyelamat nyawa kita.

Yang kedua adalah rukhsoh sunnah, dimana rukhsoh sunnah ini keringanannya luar biasa. Bahwa Allah memberikan keringanan, contoh kepada musafir. Melakukan perjalanan, dengan jarak 88,7 kilometer, katakanlah 90 kilometer. Jakarta-Bandung, gitu. Kan sudah hampir 200 kilometer, maka pada saat itu kita diberikan keringanan, contoh, dalam sholat, ketika kita berangkat waktu sebelum Dhuhur, sampai di Bekasi, Ashar kan sudah lewat kan tadi ibu kota Jakarta? Kemudian kita menjamaknya. Jamak itu menggabung, Ashar masukin ke waktu  Dhuhur, digabung, maka itu namanya Jama’ Taqdim. Tapi boleh juga kita sholat Dhuhurnya nanti, katakan di Bandung, misalnya, begitu waktu Dhuhur digabung di waktu Ashar, itu namanya Jamak Takhir. Ringan kan? Enteng kan?

Tidak sampai disitu keringan yang Allah berikan pada kita. Ada lagi, Qhoshor.

Qhoshor itu artinya memperpendek, mempersingkat,

yang tadinya Ashar 4 rakaat, kemudian Dhuhur 4 rakaat, maka Ashar kita qhoshor menjadi 2 rakaat, begitu juga dengan Dhuhur, juga 2 rakaat. Ini juga salah satu bentuk keringanan yang sunnah, artinya Allah langsung memberikan sedekah kepada kita, hamba-hambanya.

Kadang-kadang kan manusia begitu, dikasih berat, udah ngaluh, aduh ibadah berat amat, dari tadi perasaan baru Dhuhur, masak udah Ashar lagi. :D :D 4 rakaat lagi, 4 rakaat lagi.. eh, dikasih sedekah sama Allah, boleh dikerjain dengan menjamak, boleh kerjain dengan meng-qhoshor. Eh, tahu-tahu engga diambil, Allah engga suka. Justru itu namanya rukhshoh shunnah, Allah seneng banget, kalau keringannya, kalau sedekahnya, diambil oleh kita. Ketika mereka musafir, sunnah untuk mengqhoshor, menjamak sholatnya ketika dia dalam keadaan musafir.

Nah kemudian yang terakhir, rukshoh khilabul aula, dimana rukshoh ini, kasih contoh misalnya, kita masuk Romadhon kemarin, melakukan perjalanan ke kampung halaman, mudik, Cuma yang mudik ini badannya sehat, kuat, tenaganya ada, eh, tahu-rahu ngebatalin puasa, boleh!!! Tapi Alloh engga suka. Boleh, silakan, engga apa-apa, cuma Allah engga suka. Tapi kalau yang orang tua semua, wajah-wajah tua semua, tapi pulang kampungnya ke Condet ya, :D :D :D Engga punya kampung ya ustadz ya. :D :D

Nah, kalau mereka  yang sudah tua, rapuh, sakit, Allah seneng tuh, masuk ke rukhsoh sunnah, kalau Rukshoh itu diambil, Allah senang, Allah cinta, Allah suka, bagi hambanya yang mau mengambil rukshoh sunnah. Subhanalloh.

Pertanyaan:

Ustadz tadi udah dijelaskan kepada kami ada berapa ketentuan bepergian yang dikatakan musafir, dan sejauh mana orang yang kembali, dalam jangka waktu berapa lama sebagai musafir.

Jawaban ustadz Solmed:

Bagaimana tadi sudah kita jelaskan, bahwa

dispensasi seseorang disebut sebagai musafir melakukan perjalanan lebih dari 87,8 kilometer atau kurang lebih 90 kilometer lah, kita ambil titik tolaknya.

Kalau udah melakukan perjalanan dari titik batas ibu kota, kemudian lewat niey, yang kita yakini ini lebih dari  87 kilometer atau 90 kilometer, maka lalu kita disebut sebagai musafir. Kita boleh untuk menjamak sholat, baik jamak takhir, jamak taqdim, maupun meng-qoshor dengan mempersingkat sholat kita, menjadi 2 rakaat, 2 rakaat. Boleh.

Yang kedua, orang yang musafir itu, diberi keringanan kalau niatnya untuk kebaikan.

Jadi engga boleh, ah saya mau ke Bandung ah, niatnya mau ajeb-ajeb. :D :D :D Nah, begitu dia punya niat untuk berbuat dosa, berbuat maksiat, maka ulama sepakat, bahwa rukhsoh ini tidak boleh diambil, karena keringannan itu adalah untuk mereka yang bepergian dalam rangka kebaikan, silaturahmi, berkunjung kesana dan kesini, dan lain-lain sebagainya, yang bernilai kebaikan.

Yang ketiga, batasan seorang musafir itu adalah ketika dia menetap 3 hari ditempat tujuan dia,

tapi begitu dia melampaui, katakan dari Bandung 3 hari saja, berangkat lagi ke Jawa Tengah, maka sepanjang jalan, dia tetep disebut sebagai musafir. Kecuali kembali lagi ke Jakarta, sepanjang jalan sebelum sampai batas kota, tetep, masih boleh. Tetapi begitu sudah memasuki batas kota, maka dia tidak lagi disebut sebagai musafir. Dia harus  melaksanakan apa-apa menjadi kewajiannnya sesuai dengan ketentuan yang Allah berikan.

Innasholata kana alal mukminina kitabammaukutta

Bahwa sesungguhnya setiap sholat telah ditentukan waktunya. Tidak lagi dijamak, tidak lagi boleh meng-qoshor.

Pertanyaan:

Pak ustadz saya ingin bertanya, apakah seorang wanita harus meng-qodho sholatnya yang ditinggalkannya selama dia mengalami haid, yang nifas juga.

Jawaban ustadz Solmed:

Bahwa setiap muslimah, ini memang merupakan salah satu bentuk kecintaan Allah kepada perempuan, ketika si perempuan, si muslimah, tiap bulan biasanya kedatangan tamu, tamu yang diundang apa yang tidak diundang itu? :D Pokoknya diundang engga diundang, dia mah datang aja setiap bulan, ya :D :D Nyelonong aja ;) Setiap waktu, setiap saat, dimanapun kita berada.

Ada haid misalnya, setap bulan kita jumpa, untuk perempuan. Begitu dalam masa haid, katakan 1 hari, 2 hari, bahkan 7 hari, atau 10 hari, berarti dalam waktu 10 hari itu misal, sholat tidak kita kerjakan, karena memang itu menjadi haram kalau kita kerjakan. Lalu bagaimana sholat yang kita tinggalkan, yang tidak kita kerjakan, karena haid yang dilalui oleh kita.

Jawabannya: “tidak ada qodho” bagi perempuan yang tidak mengerjakan sholat, karena memang di haramkan untuk sholat, dan dia tidak diwajibkan untuk meng-qodho sholatnya.

Artinya jangan dikerjain. Karena engga ada yang merintah. Kadang-kadang yang disuruh engga dikerjain, begitu engga disuruh dikerjain juga, :D :D

Komentar Cheche Kirani: engga kebayang ya buk, misalnya 10 hari engga sholat karena datang bulan, dikali sehari 5 waktu, kali berapa rakaat, dikerjakan dalam sehari,  50 kali. Yang ada pusing. MasyaAllah.

Komentar Ustadz Solmed: itu salah satu bentuk kecintaan Allah tuh kepada ibuk-ibuk ya. Alhamdulillah.

Pertanyaan:

Saya mau tanya niey pak ustadz, bagaimana hukumnya meng-qodho sholat, tapi terkadang sholat tuh sengaja tuh sholat ditinggalin?

Komentar Cheche Kirani: saya tahu niey pertanyaan arahnya kemana, niey kalau udah ke Mangga Dua, Dhuhur sama Ashar lewat, milih-milih seragam di Tanah Abang.. :D :D :D Lupa Dhuhur, Lupa Ashar. :D

Komentar Ustadz Solmed: cuma melihat-lihat atau belanja? :D :D

Jawaban Ustadz Solmed:

Orang ketika lupa, lupa, betul-betul lupa. Ketentuannya lupa, hilang akal, ketiduran, maka dia tidak dibebankan sebuah hukuman dan syariah. Namun ketika dia bangun, ketika dia sudah tidak lupa lagi, maka saat itu dia harus kerjakan sholatnya, dan sholat yang dikerjakan bukan pada waktunya yang kita kenal dengan istilah qodho, itu bukan rukshoh. Tapi itu adalah pelunasan hutang.

Jadi bukan rukshoh qodho itu, tapi pelunasan hutang.

Dengan kata lain, kalau kita tidak sholat Subuh, misalnya, karena ketiduran saja, padahal tidur itu tidak dibebankan hukuman, masih wajib untuk meng-qodho, apalagi sengaja, jalan-jalan ke mall, sholat entar-entar saja, baju yang ini ini belum ketemu, “sengaja”. Bayangin, yang ketiduran aja, masih wajib buat nge-ganti dengan qodho, apalagi yang sengaja.

Nah, begitu hutang lunas, kewajiban gugur, tapi untuk dosa, segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Karena sekali lagi, qodho itu bukan sebuah keringanan dari Allah, tapi itu sebuah  pelunasan atas hutang atas sholat yang kita kita kerjakan.

Komentar Cheche Kirani: jadi langsung sholatnya ya ustadz ya, tidak pakai sholat sunnah-nya.

Komentar Ustadz Solmed: iya, tidak pakai, langsung sholat wajib saja. Kita lunasin hutang yang tidak kita lakukan tuh.

Pertanyaan:

Pertanyaan saya ini mewakili pertanyaan anak-anak muda pada umumnya pak ustadz, pertanyaannya adalah apa boleh pak ustadz, meng-qodlo sholat subuh itu sampai dengan terbitnya matahari atau menjelang waktu siang.

Jawaban Ustadz Solmed:

Ini tadi pertanyaan udah dijawab ya. Artinya ketika dia lupa, ketiduran, atau lalai, atau sengaja, yang namanya sholat tetap wajib dikerjakan. Sekalipun bukan pada waktunya, tapi ada waktu qodho yang merupakan ketentuan untuk melunasi hutang sholat belum dia kerjakan saat waktu itu tiba.

Artinya kalau yang lupa saja masih diwajibkan untuk meng-qodho sholat, apalagi yang sengaja, betul-betul sengaja meninggalkan sholat, lebih diwajibkan lagi untuk dia melunasi hutang sholatnya.

Dan untuk dosanya karena beda antara orang lupa dengan yang sengaja, yang sengaja pasti sudah diberikan dosa oleh Allah. Nah, untuk itu semua, bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Adapun pelaksanaanya seperti apa, kalau tadi ustadz jelaskan ketika Dhuhur dan Ashar ya ustad ya, nah kan itu qoshor dua, dua, ya, karena 4 rakaat. Nah, kalau misalnya dari Maghrib ke Isya’, itu berarti tiga-dua, gitu ya ustadz ya?

Jawaban ustadz Solmed:

Jadi untuk yang Maghrib, ketika dia dijamak, taqdim misalnya, masuk Maghrib, Isya’ nya boleh di qoshor, Isyanya boleh dipersingkat dengan 2 rakaat. Tapi begitu Maghrib dia kerjakan, dia tidak boleh disingkat,  tetap dia hitungannya 3 rakaat. Yang 3 tidak boleh disingkat. Dia boleh di jamak, tetapi tidak boleh di qoshor.  Itulah ketentuan yang diajarkan oleh nabi kita Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Sholat-sholat apa saja ustadz, yang boleh dan tidak boleh di qoshor, di jamak, sholat apa aja?

Jawaban ustadz Solmed:

Yang boleh dijamak baik taqdim maupun takhir, begitu juga di qoshor,

Yang pertama adalah Dhuhur.

Yang kedua adalah Ashar.

Untuk Maghrib, dia boleh dijamak dengan Isya’, tetapi dengan catatan, khusus Maghrib tidak boleh di qoshor.

Tapi bagi waktu Isya’ yang kita kerjakan bisa diringkas, Isya’nya boleh di qoshor.

Subuh, boleh dijamak, tidak ada qoshor, kalau qoshor, habis sudah. :D :D Qoshor? Orang cuma 2 rakaat. ;) :D :D

Komentar Cheche Kirani: itupun kalau kita mengerjakan sholat yang di qoshor, dijamak itu tidak memakai sholat sunnah ya ustadz?

Komentar Ustadz Solmed: ya, langsung aja, engga apa-apa. Dan yang paling afdol, adalah ketika kita berjamaah, berjamaah lah dengan orang yang menjamak. Jadi jangan berjamaah kepada orang yang mukim. Berjamaah, misal, bapaknya jadi imam, istrinya jadi makmum, anaknya jadi makmum, itu sunnah. Itu yang paling bagus, itu yang paling afdol. Jangan kita berjamaah dengan orang yang menjadi mukimin disana, kita jamak, 2 rakaat, maaf, sementara dia kan 4 rakaat,  makanya afdol seperti ini.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Kalu misalnya niey ustadz, kita abiz sholat jamak misalnya Dhuhur untuk ke Ashar gitu, nah, habis kita sholat Dhuhur, kita langsung berdiri, atau berdoa dulu, atau bagaimana pelaksanaannya?

Jawaban Ustadz Solmed:

Yang paling afdol ketika kita menjamak sholat sekaligus meng-qoshor, misalnya, itu yang paling afdol adalah diselingi dengan iqomah. Begitu Assalamu ‘alaikum warohmatulloh. Assalamu ‘alaikum warohmatulloh. Kemudian kita berdiri, lalu kita iqomah. Itu sunnah. Meskipun sendiri, tidak berjamaah. Apalagi berjamaah. Makanya kadang-kadang setiap kita melaksanakan sholat jamak, atau kita perhatikan orang, selalu biasanya diselingi dengan iqomah. Walaupun sunnah. Artinya tidak dikerjakan pun iqomah-nya,  tidak apa-apa.

Komentar Cheche Kirani: jadi tidak ada alasan lagi untuk kita tidak sholat ya. Yang merenung penjelasan ustadz ini, berarti memang Allah sudah memberikan kita kemudahan, berbagai macam ya, kitanya aja yang suka alesan ya. ;) ;)


Sekali lagi kita tidak boleh meringankan ya ustadz ya, kepada hambanya, itu pasti sudah sesuai dengan kadar kita. Kita engga kebayang ustadz kalau 50 waktu ya, baru selesai, Allohu Akbar, Subhanalloh.

Dari kita itu harusnya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Nabi Muhammad Sholallohu ‘alahi wassalam.

Iya betul, engga kebayang 50 rakaat, acara begini niey, datang Subuh-subuh, datang kesini ya, udah nyempetin waktu ya, begitu nyampe di Pancoran misalnya, udah adzan lagi, sholat lagi, jalan baru 1 kilometer, mesti sholat lagi. Engga kebayang.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Ada pertanyaan, kalau misalnya, kenapa ya di Indonesia kita boleh saja meng-qodho, menjamak, tapi kalau kita misalnya lagi umroh ato haji, kenapa orang-orang berlomba-lomba untuk sholat di Masjidil Harom dan Nabawi? Silakan ustadz.

Jawaban ustadz Solmed:

Yang pertama, begitu mulianya ketika kita sholat di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi. Sekalipun pada saat itu kondisi perjalannya adalah musafir, tapi ingat, batas waktu hanya 3 hari. Lewat daripada itu tidak lagi disebut sebagai musafir. Nah tentu kita melihat, biaya sudah kita keluarkan, sementara sholat kita persingkat, misalnya, aduh, pahala yang di dapat begitu banyak, rasanya karena rasa sayang atas pahala yang Allah berikan jika sholat di masjid Nabawi ataupun di Masjidil Haram, nah itu akhirnya kita tidak menjamak dan kita tidak hendak meng-qoshor. Sebuah kecintaan untuk pahala yang begitu dahsyat yang Allah berikan kepada kita semua yang melaksanakan umroh maupun haji. InsyaAllah.

Pertanyaan Cheche Kirani:

Adapun ada cerita ustadz, apakah Rosulullah sholallohu ‘alaihi wassalam memang pernah mengqodho sholat atau menjamak sholat?

Jawaban ustadz Solmed:

Rosulullah sholallohu ‘alaihi wassalam sepanjang hidup tidak pernah beliau meninggalkan sholat secara sengaja.

Kalaupun beliau sholatnya diundur di waktu lain, karena beliau tertidur. Sebagaimana riwayat yang diriwayatkan oleh Bilal.

Yang kedua, saat perang Khadaq berkecamuk, yang diriwayatkan oleh Ibn Akbar, begitu uzurnya…, begitu bangun tidur, tahu-tahu matahari sudah terbit, langsung beliau qodho, begitu perang sudah usai, saat itu kaum muslimin sudah bisa menguasai diri dan kondisi, saat itu Rosul meng-qodho pada saat-saat sholat-sholatnya yang telah dilewati. Artinya ini kan waktu yang sifatnya bukan disengaja. Qodho-nya beliau karena alasan, yang pertama, karena beliau pernah ketiduran, yang kedua, saat itu perang sedang berkecamuk. Jadi dalam kondisi itulah riwayat menceritakan bahwa Rasul memang  pernah meng-qodho sholatnya.

Komentar Cheche Kirani: tapi jangan dijadikan alasan, karena Rasulullah saja pernah tidur ya, kita umatnya, ya udahlah tidur aja, weker dimatii, kucing disumpet. Itu namanya menyengaja. :D :D

Pertanyaan Cheche Kirani:

Batasan waktunya tadi, hanya 3 hari ya ustadz?

Jawaban Ustadz Solmed:

Hanya 3 hari. Memang banyak perbedaan pendapat, ini kembali lagi ke persoalan fikih, ada yang 15 hari. Tapi sepakat ulama Ahlusunnah wal jamaah, Imam Maliki, kemudian Imam Syafii, itu sepakat 3 hari. Bagi yang merasa 15 hari ya silakan saja. Sekali lagi ini adalah persoalan khilafiyah, kita tidak pernah meributkan persoalan itu. Tapi bagi kita yang umumnya di Indonesia meyakini, batas waktunya hanya 3 hari.

Komentar Cheche Kirani: kalaupun mungin kita sebagai musafir ya, sepertinya kita Jakarta-bandung sekarang udah deket banget ya ustadz ya. Cuma 2 jam perjalanan, kalaupun tidak memakai rukshoh itu, tidak apa-apa ustadz?

Komentar Ustadz Solmed: Seperti tadi kita sampaikan bahwa rukshoh itu adalah sunnah. Ketika melakukan perjalanan, dan disebut sebagai musafir, maka ketika kita mau sholat, gunakan rukhsoh itu. Itu merupakan rukshoh yang Allah sayangi dan Allah senangi. Ambil qoshornya, ambil jamaknya. Allah seneng sedekah diambil, sebagaimana Allah seneng kewajiban yang diberikannya, dijalankan oleh hamba-hamba-Nya. Jadi sayang banget, kalau kecintaan Allah dengan kita meninggalkan rukshohnya truz kemudian tidak kita ambil, sayang sekali.

Kesimpulan

Manusia hadir ke dunia ini dalam rangka untuk beribadah kepada Allah, m=mengemban an=amanat u=untuk s=selalu i=ingat A=Allah. jadi manusia dilahirkan ke muka bumi ini untuk mengemban, amanat untuk selalu ingat Allah subhanahu wata’ala. Bagaimana cara mengingat Allah?

Aqimisholatanidzikri

Dirikanlah sholat, untuk ingat kepada-Ku, kata Allah Subhanahu wata’ala, dengan sholat maka kita sudah mengingat Allah Subhanahu wata’ala.

Yang kedua, sholat amat sangat penting, saking pentingnya jangankan kondisi damai, kondisi tentram, saat kondisi perang sekalipun, wajib untuk sholat, yang kita kenal dengan sholatul khouf, sholat khouf ini adalah sholat saat pertempuran sedang berkecamuk, saat kaum muslimin sedang menghadapi peperangan. Bayangkan, saat perang saja masih wajib sholat, apalagi Indonesia yang negerinya aman, damai, tenteram, sentausa, luar biasa.

Kemudian, saat sehat wajib sholat,  dengan melihat ketentuan yang sakit saja, masih tetap wajib, tidak bisa berdiri – duduk, tak bisa duduk – tiduran, tiduran buk, bukan tidur :D :D Kemudian kalau tiduran tidak bisa nge-gerak-gerakin dengan isyarat tangan, – gunakan mata kita, mata tidak bisa dikedipkan sebagai isyarat, – gunakan hati kita. Hati pun tak mampu misalnya untuk mengerjakan sholat dengan isyarat,…  ini udah pantes untuk disholatkan. :D :D Mau diapain lagi? Sholat sudah tidak bisa dengan cara apa pun. ;)

Kita udah paham, bahwa jangan sekali-kali kita mencoba untuk meninggalkan sholat tanpa udzur syar’i, udzur yang dibenarkan oleh Allah.

Thanks to:

Program Titian Qolbu TVOne tayangi 11 Juli 2011, Tema “Keringanan dalam Beribadah”, narasumber Ustadz Solmed, dipandu oleh Cheche Kirani.

5 thoughts on ““.. qodho sholat itu bukan sebuah keringanan dari Allah, tapi itu sebuah pelunasan atas hutang sholat yang kita kerjakan… “

  1. Paradigma keikhlasan menjadikan hati kita pribadi yang ikhlas, walaupun hatinya sedang menjadi pelabuhan yang sulit meng-ikhlas-kan.
    Syukron atas jerih payah Anda dalam berbagi kajian yang bermanfaat ini. Jazakallah khoiron katsiiro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s