Ternyata hari liburku Sabtu ini engga jadi jalan-jalan sesuai rencana, pagi itu hujan abu masih berlangsung, keponakanku bersikukuh maw bersepeda setelah hujan abu mulai mereda. Kostum apa yang dia pakai? Kostum seperti biasa, namun kudu ditambah masker yang harus di doble-in ikatannya karena ukurannya buat orang dewasa plus kacamata hitam berbingkai merah…
Kata kakakku, masker itu bisa terbeli pagi itu di Apotek K24 di Jl. Wates, itupun pakai antre, harganya Rp700,-, sementara ada temanku relawan Merapi nulis status di FB kalau masker dan obat tetes mata mulai susah di cari di apotek di Jogja. Bagaimana maw jalan-jalan kalau debu-debu masih beterbangan, bahkan sekolah-sekolah pun di liburkan… Upsss masih mikirin gimana maw jalan-jalan, sedangkan saudara-saudara kita dipengungsian mikirin erupsi yang jaraknya sangat dekat dengan mereka dan bisa sewaktu-waktu terjadi… Astaghfirllohaladzim.. tin….
Kalau melihat langit, rasanya jadi mendung keputihan. Saudara sepupuku mulai resah ketika neneknya yang tinggal di kaki Merapi susah buat di hubungi, padahal dia tinggal di luar kota. Rumit juga, sedangkan jarak pandang menurut bulekku yang tinggal di Sleman aja, sangat pendek, bila maw menge-cek keadaan disana.
Akhirnya, siang itu hujan mengguyur debu-debu yang menutupi semua benda yang ada di luar, Alhamdulillah…. debu-debu putih tadi berubah menjadi kehitaman diguyur hujan…
Aku masih samar-samar teringat akan hujan abu ini ketika aku masih kecil, masih TK, waktu itu abu putih menempel di daun-daun dekat rumahku, namun tak setebal ini, hanya tipis-tipis saja. Dan sekarang aku menemui hujan abu lagi.

