Apa arti Hanacaraka-Datasawala-Padajayanya-Magabathanga

sudut hanacaraka ^_^

Kembali ke memori saat masih ada di masa-masa sekolah dasar, saat baru belajar huruf demi huruf Jawa, dari “Ha” sampai “Nga”, urutan huruf Jawa yang masih “nglegena” alias belum dikasih “sandangan” , akan berbeda bacanya dengan bila udah dikasih yang namanya “taling tarung” yang huruf  itu akan menjadi vokal “o”, jadi mendingan dibaca pakai ‘a’ saja. Hihihihi … :D kenapa coba jadi inget huruf Jawa? Yaw.. secara tiap hari aku lewat kawasan nol kilometer di Jogja, jadi yaw kudu lihat bila tema yang sedang diusung kawasan itu adalah huruf Jawa.

Walau di rubrik Sungguh-sungguh Terjadi yang bisa di baca di edisi 26 Juli 2010 SKH Kedaulatan Rakyat dimuat bahwa Huruf “Da” dan “Sa” salah penempatan hurufnya, yaitu yang seharusnya “Datasawala” namun jadi terbaca “Satadawala”. Dan saat aku kembali lihat tepatnya di depan Monumen Serangan Umum, huruf-huruf yang terpasang memang terbaca jadi “Satadawala”. Memang secara fisik kedua huruf itu mirip, namun …. jika terbalik akan berbeda maknanya dunk…, kalau ingat tentang cerita Aji Saka, pasti akan ingat apa arti urutan alpabhet huruf Jawa itu….

Bisa di klik di wikipedia tentang cerita Aji Saka dengan Hanacaraka-Datasawala-Padhajayanya-Magabathanga, hikmah dari cerita ini yang bisa aku ambil (***ini pemikiranku aja c.. ;) .. )

bahwa pesan itu harus disampaikan dengan jelas pada seseorang dan kita harus mengingat apa yang kita amanatkan kepada seseorang itu.

Coba saja bila Aji Saka menyampaikan pesan ke Sembada dan Dora dengan detail  … lah bagaimana tidak?… Nukilan tentang pesan Aji Saka waktu itu  ringkasnya adalah

Dora dan Sembada tidak diperbolehkan pergi dari Pulau Majethi, diberi tanggungjawab menjaga keris pusaka milik Aji Saka, tak boleh diberikan pada seorang pun kecuali untuk Aji Saka.

Tapi, huruf Hanacaraka-Datasawala-Padhajayanya-Magabathanga engga akan tercipta bila tak ada peristiwa tragis meninggalnya Dora dan Sembada, kedua abdinya yang sangat setia padanya. Yaw… semua kejadian memang selalu ada hikmahnya… ;)

Namun gambar-gambar di wikipedia yang menggambarkan peristiwa itu, ada beda dengan yang aku pelajari saat sekolah dasar dulu. Memang benar bila

Hanacaraka itu berarti “ana utusan” atau ada utusan, Datasawala itu berarti “padha garejegan” atau saling bertengkar, Padhajayanya itu berarti “padha digjayane” atau kesaktiannya seimbang, dan Magabathanga itu berarti “padha dadi bathang” atau keduanya meninggal.

Ilustrasinya niey yang beda. Ilustrasi di wikipedia yang menggambarkan Padhajayanya dan Magabathanga sama-sama menggunakan satu keris, yaitu keris pusaka yang dititipkan Aji Saka, jadi keris itu milik Aji Saka. Namun illustrasi dari buku tua yang bapakku dulu ajarkan padaku, keris yang digunakan untuk saling bunuh adalah keris punya mereka masing-masing, sedangkan keris pusaka milik Aji Saka tetap terjaga disampingnya. Bukankah mereka taat pada amanat Aji Saka??… ‘tau aah.. yang benar yang mannnaaa ??… :D

...yang benar 'datasawala' ^_^

Jadi yang ada di depan Monumen Serangan Umum itu seharusnya “Datasawala”yang artinya saling bertengkar…. :D kalau “Satadawala”, engga taw artinya apa… ;)

Thanks to:

http://jv.wikipedia.org/wiki/Carita_Aji_Saka

About these ads

17 thoughts on “Apa arti Hanacaraka-Datasawala-Padajayanya-Magabathanga

  1. makasih gan atas informasi nya
    cerita yang kamu jelasin tadi sama percih kaya yang kake aku ceritain …
    tapi aku masih bingung
    semua itu teh buat apa cih???
    katanya bisa itung itungan buat perjodohan
    benerga ya???

    • Hai oban,… itu menunjukkan abjad huruf jawa. jadi yaw fungsinya buat nulis kata2 dst… aku pernah c diajarin buat fun aja; dgn lompat urutan 2 huruf abjad jawa dr atas k bwah.bs mmbntuk kata yg unik & beda,misalnya ‘nasi’ akn mjd ‘dhabi’ dst. klo ttg ada hubungnnya dgn perjodohan..aku gag taw…he.he…makasih udah brkunjung ;)

    • @ arya putu:… wah saya engga taw juga klo ada “legenda” ttg itu.. ;)

      .klo yg pernah saya baca di–http://www.babadbali.com/aksarabali/books/cckpab/cc2120bali.htm — menurut “sejarah” aksara Bali, mengambil aksara dari huruf Jawa, sedangkan huruf Jawa mengambil dari huruf Palawa/ Dewanegari, kemudian berevolusi hingga kita dapati bentuk aksara seperti sekarang ini.

      .memang jumlah aksara Jawa yang diserap menjadi aksara Bali hanya 18 buah (minus “dha” dan “tha”)…ada yang bilang dua huruf itu perlambang kematian, gag taw juga c… :D
      . makasih udah berkunjung ;)

  2. punya referensi bukunya gak (selain dr internet n wikipedia),klo ada judul bukunya,kbtulan gw lg bikin TA ttg hanacaraka tp susah bgt nyari referensi bukunya d Jakarta.Thanks before.

    • @ lynk@art: thanx udah brkunjung. Menurutku klo bkin TA lebih baik berburu di mcm2 perpustakaan, ato klo masih ksulitan bisa d coba d cari lewat google books. Klo mengerti bahasa jawa akan lbh membntu, krn bnyk jg buku ditulisnya dlm bhs jawa. Suxes ya *_^

  3. haurnuhun kang, atas infonya,, saya teh lagi mengkait2kan antara sejarah kita, dengan apa yg terjadi pada sejarah negara lain,, yang kemungkinan terjadi lagi di masa sekarang.. juga teori konspirasi giut,, hehehe makasih banget nich bermanfaat infonya… salam dari bogor :)

  4. Banyak penafsiran kropak sloka yang menyimpang alias merubah maknanya. di jawa barat sejak dahulu sudah tersaji hanacaraka tersebut, perbedaannya adalah pada penafsiran arti dan pada seloka Padajayanya yang sebenarnya adalah Padajaya – Nyamagabatang-nga.
    Kesimpulan kropak itu dirubah kembali menjadi Hanacaraka – Datasawalamanggala – Padajayanya pada syair kropak Bali. (pastilah memiliki perubahan drastis)

    • Makna penjabarannya diatas itu ialah menceriterakan tentang kemasa depan yang akan carut marut yaitu seperti saat ini (jaman Bandu-bendu dll), yang pula dijabarkan tentang cikal bakalnya dari awal peradaban itu sebagai pula Batangnya / Cantangnya (Nya Ma Ga Ba Tang Nga) dari sebuah akar yang satu untuk kembali bersatu.
      Coba pahami sloka cikal bakal yang tersaji tentang HANA NGUNI HANA MANGKE, TAN HANA NGUNI …..
      bla-bla-bla…. Pcs……

  5. Informasi seperti yg Mbak tulis ini masih langka. Jadi, saya sangat mengapresiasi tulisan ini. Sejak empat tahun lalu saya tinggal di Jogja, sejak itu pula rasa penasaran saya terhadap bacaan, makna, dan filosofi tulisan Jawa di titik nol KM kota Jogja belum terjawab. Tulisan ini menjawab semua detail rasa penasaran saya. Terima kasih banyak atas informasinya. Keep writing and keep educating people! :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s